Jumat, 31 Desember 2010

Catatan Akhir Tahun


Melewati jalan Jend. Sudirman hari ini , Gempita tahun baru mulai menyambut. Di kiri kanan jalan terompet dan pernak-pernik tahun baru mulai berjejer. Tak ketinggalan pedagang jagung bakar mulai menata meja, tak seperti hari-hari biasanya, hari ini areanya meluas sampai ke depan SOHO. Sudah dapat dibayangkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, jalan utama Pekanbaru ini akan macet total, hingar bingar terompet memecah malam pergantian tahun, sebagian besar warga kota yang tidak merayakan tahun baru ke luar kota Pekanbaru akan keluar ke jalanan, merayap memadati sepanjang jalan Sudirman menuju purna MTQ dimana puncak acara pergantian tahun digelar. Pesta kembang api yang memecah angkasa, menandai datangnya tahun baru 2011 diiring sorak sorai dan pekikan riuh rendah. Gegap gempita. Tumpah ruah dalam kegembiraan. Entah gembira untuk apa,.

Tak hirau dengan jumawanya hari ini, menanti detik-detik pergantian tahun. Aku melintasi jalan Sudirman dengan sedikit gamang. Meski sebelum-sebelumnya aku sangat menikmati jika melintas di jalan ini, ada banyak nyanyian kuselesaikan ketika melewati jalan ini, ada banyak cerita tersimpan dan mengapung kembali tatkala kulewati kembali setiap inchi yang kulewati. Di jalanan ini juga aku terdiam memaknai pertemuan kita yang sekejab dan kelebat waktu yang singgah menyempatkan kita melewati jalan ini bersama sekaligus menggiring perpisahan kita tatkala ku antar engkau ke bandara. Sering kuhabiskan waktu berlama-lama melewati jalan ini, menikmati setiap sudutnya, pohon-pohonnya dan langit yang menaunginya. Tapi kali ini entah mengapa, jalan ini terasa lebih panjang dari sebelumnya. Apakah karena aku kehilangan ingat untuk menikmatinya, aku rasa bukan. Tapi lebih kepada ketakutan bahwa jalanan ini akan melemparkan tubuhku yang sempoyongan dimana aku tidak bisa lagi melintasinya dan menyanyikan lagu-lagu kesukaanku ketika sedang melintasinya. Itulah sebabnya kenapa aku gamang.

Di tengah kesibukan orang-orang yang melintas aku memacu motorku dengan pelan, mengimbangi kepala yang terus berdenyut, mata yang mulai panas. Memaksakan diri, sebenarnya bukan. Terpaksa atau tidak aku hanya ditempatkan pada keadaan ini dimana aku harus menempuh jarak sejauh ini sendiri dalam kondisi yang memang tak layak untuk keluar kantor untuk sebuah urusan yang harus kutunaikan hari ini, inilah satu-satunya pilihan. Tanggung-jawab mungkin begitu. Tapi terkadang tanggung jawab itu datang pada waktu yang tidak tepat. Saat kondisi sakit seperti ini, aku tidak bisa menghindar dari sebuah tanggung jawab untuk menyiapkan laporan akhir tahun, tugas-tugas yang tak bisa kuwakilkan. Atau barangkali sakit ini yang tidak tau diri, datang pada waktu yang tidak tepat. Atau barangkali akulah yang salah. Bukankah si sakit ini datang kepadaku untuk memberi pengkabaran, bahwa tubuh yang kugunakan ini sering aku lalaikan.

Dan jika aku mau sedikit bijak, sebenarnya si sakit ini tidak datang dengan tiba-tiba, tapi jauh sebelumnya ia telah memberi sinyal kepadaku untuk menjagai istirahatku. Tubuh yang lemas, flu yang mulai mendera tetap kuabaikan. Tetap kujalani hari yang padat, tanpa kompromi. Bahkan meski beberapa hari sebelumnya aku terpaksa istirahat di rumah, tetap tidak kumanjakan ia dengan tidur secukupnya. Tetap kubiarkan pikiranku tersita oleh pekerjaan, telepon genggam yang terus berdering, yang terkadang baru saja mataku mulai beranjak untuk terkatup. Si telepon genggam itu kembali berdering mengabarkan urusan-urusan yang memang seharusnya aku yang menyelesaikan. Dan ketika kalender yang menandai hari semakin berkurang, memaksaku bangkit untuk sesuatu yang dibilang orang tanggung jawab. Hari ini, akhir tahun. semua harus kutuntaskan. Suka maupun tidak suka. Inilah konsekuensi sebuah pekerjaan. Dan ketika akhirnya ia ambruk masih saja aku menyempatkan diri untuk menyelesaikan segala sesuatu hal yang memang harus kuselesaikan. Bahkan disaat semuanya terselesaikan tetap saja kusempatkan untuk menulis catatan sepele ini, di tengah hingar mercun yang mulai diledakkan, dan riuh rendah suara kemacetan di kejauhan, sebentar lagi sorak sorai pesta kembang api segera berkumandang, keriuhan perayaan pergantian tahun yang memang tidak pernah kusuka. Aku lebih memilih disini, memainkan jemari yang mulai melemah, mata yang mulai tak jelas melihat, dan tubuh yang kupaksa berjaga menahan kepala yang mulai berat untuk menyelesaikan tulisan remeh temeh ini, untuk sekedar melengkapi catatan akhir tahun, yang mungkin suatu hari kelak akan kuulang ulang membacanya. Perjuangan akhir tahun.

Pku, 31/12/10

Kamis, 16 Desember 2010

trip

Yang terluka



ada butiran mengalir
ketika kueja namamu dalam doaku
Seingatku cukup lama kita berdiam
Aku tak sadar, kau pun tak sadar
Betapa waktu telah menjarah
derai tawa kita, berbungkus kehangatan
dalam kicauan burung hinggapi reranting
Di belakang rumah kita, disela kabut gunung
Yang perlahan turun hinggap di daun

Tak pernah kulupa
Di punggungmu aku bergayut,
Melalui jalan setapak yang licin
Yang setiap hari kita lewati
Menuju pancuran yang bergemerincing bening
Di celah bukit, dikala matahari turun
Mengintip dibalik celah-celah rindang pepohonan
Dan gigi kita gemeretak menahan dingin
Sebentar lagi senja akan memasuki sunyi

Denganmu aku berlari
menangkap kupu-kupu
Yang selalu saja
Ramai mendatangi kebun bunga
Di depan rumah kita
Seingatku, begitu ceria wajahmu
Meski sering kucuri jatah bermainmu
Dengan segala keegoanku
Tak ada keluhmu, meski terikat di pohon jambu
Semua karena kenakalanku
Masih jelas kuingat garis senyum
Melingkar di wajahmu, dan mata yang berbinar itu

Tapi kini, wajahmu murung tak berbinar
Bola matamu dingin, diam tak terbaca
Tanpa semangat, mengubur harapan
Mulutmu terkunci, diam seribu bahasa
layu tubuhmu menyimpan gumam
entah apa gerangan

Wahai, katakanlah kepadaku, aku masih adikmu
seperti apakah luka yang memerih di jantungmu
Bukan karena cinta tentunya
Mungkin karena putus asa
Kehilangan percaya diri, kehilangan pegangan

Aduhai dengarkanlah kata-kataku, karena aku adikmu
cobalah engkau raih, dari lubuk jiwa paling dalam
Iman....


----------**********------------
Untukmu Abang
Teriring doa dan larik hatiku yang memerih
Selamat Ulang Tahun
Semoga Rahmat Allah selalu menyertaimu
Menyusupkan cintaNya ke dalam dadamu..
di setiap helaan nafasmu

Pku, 16/12/10

Selasa, 14 Desember 2010

HIDUP



Kehidupan merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu bukti karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan.

Hidupmu, wahai saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu, namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita kerana pedihnya sepi dan dambaan terhadap kebahagiaan. Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagi pula terpencil dari keakraban dan perhatian.

Saudaraku, kulihat engkau duduk di atas bukit emas serta menikmati kekayaanmu -bangga akan hartamu, dan yakin bahawa setiap genggam emas yang kau kumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan fikiran orang lain dengan dirimu.
Di mata hatiku engkau kelihatan bagaikan panglima besar yang memimpin bala tentara, hendak menggempur benteng musuh. Tapi setelah kuamati lagi, yang nampak hanya hati hampa belaka, yang tertempel di balik longgok emasmu, bagaikan seekor burung kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang kosong.

Kulihat engkau, saudaraku, duduk di atas singgahsana agung; di sekelilingmu berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan, memuji kebijaksanaanmu, memandangmu seakan-akan nabi yang mulia, bahkan jiwa mereka melambung kesukaan sampai ke langit-langit angkasa.

Dan ketika engkau memandang kelilingmu, terlukislah pada wajahmu kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi raga mereka.
Tapi bila kupandang lagi, kelihatan engkau seorang diri dalam kesepian, berdiri di samping singgahsanamu, menadahkan tangan ke segala arah, seakan-akan memohon belas kasihan dan pertolongan dari roh-roh yang tak nampak -mengemis perlindungan, kerana tersisih dari persahabatan dan kehangatan persaudaraan.


Hidupmu, wahai saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah penempatan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandangan mata tetangga. Seandainya rumahmu tersalut oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan kemarau, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di atas gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya atas lembah, kerana lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.

Kehidupanmu, saudaraku, dibaluti oleh kesunyian, dan jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya kiranya aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang sedang memandang cermin.
(Dari ‘Suara Sang Guru’)

Khalil Gibran

Sabtu, 11 Desember 2010

Kisah Kupu-kupu



Suatu hari muncul celah kecil pada kepompong, seorang pria duduk dan memperhatikan calon kupu-kupu tersebut berjuang keras selama berjam-jam untuk mendorong tubuhnya keluar dari lubang kecil tersebut.

Kemudian, tampaknya usaha itu sia-sia, berhenti dan tidak ada perkembangan yang berarti. Seolah-olah usaha tersebut sudah mencapai satu titik, dimana tidak bisa berkelanjutan.

Maka pria itu memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu. Dia mengambil gunting dan membuka kepompong itu. Kemudian kupu-kupu itu keluar dengan sangat mudahnya.

Tetapi apa yang terjadi.? Kupu-kupu itu memiliki tubuh yang tidak sempurna. Tubuhnya kecil dan sayapnya tidak berkembang.

Pria itu tetap memperhatikan dan berharap tidak lama lagi sayap itu akan terbuka, membesar dan berkembang menjadi kuat untuk dapat mendukung tubuh kupu-kupu tersebut.

Semua yag diharapkan pria itu tidak terjadi. Kenyataannya kupu-kupu tersebut menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yang lemah dan sayap yang terlipat. Kupu-kupu tersebut tidak pernah bisa terbang.



Apa yang telah pria itu lakukan dengan segala kebaikan dan niat baiknya. Dia tidak pernah mengerti bahwa perjuangan untuk mengeluarkan badan kupu-kupu dari kepompong dengan cara mengeluarkan seluruh cairan dari badannya adalah suatu proses yang dibutuhkan, sehingga sayapnya bisa berkembang dan siap untuk terbang begitu keluar dari kepompong tersebut sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh TUHAN

Seringkali perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup ini. Jika TUHAN memperbolehkan kita menjalani hidup ini tanpa cobaan, hal ini akan membuat kita lemah. tidak akan sekuat seperti yang seharusnya kita mampu, dan tidak akan pernah bisa terbang seperti kupu-kupu.

Kita memohon kekuatan...
Dan Allah memberi kita cobaan dan ujian untuk membuat kita kuat dan tegar..

Kita memohon kebijaksanaan. ..
Dan Allah memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana dan matang.

Kita memohon kemakmuran.. .
Dan Allah memberi kita akal dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya bagi mencapai kemakmuran.

Saya memohon Keteguhan hati …
Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon cinta...
Dan Allah memberi kita orang-orang bermasalah untuk
diselamatkan dan dicintai.

Kita memohon kemurahan rezeki dan kebaikan hati...
Dan Allah memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.


Begitulah cara Allah membimbing Kita...

“kita tidak menerima apa yang kita inginkan, tapi kita menerima apa yang kita butuhkan..”

………… Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal itulah yang terbaik untuk kita. Tuhan Mengetahui, sedang kita tidak..Berserahlah senantiasa.



Hidup seekor kupu-kupu ini memberikan pelajaran bagi kita.
Hidup menjadi lebih baik membutuhkan perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan semangat.

___________________________******************************____________________________

Kamis, 09 Desember 2010

Kado Ulang Tahun Untukmu


Hanya semilir angin, menandai waktu
Mendulang wajahmu di bilangan bintang
Merangkai selaksa puisi yg serupa gumaman
Tak jua tersusun dalam tulisan
Layaknya puisi terindah
Dalam kado berpita biru
Yang kuingin kupersempahkan
Dikejap hari, menjemput fajar 10 desember

Selaksa kata bermain di gulana
Tak jua tersusun indah
Hanya larik-larik hatiku, menali angkasa
Mengusung doa-doa menguak pintu langit
Mengeja namamu berulang kali
Bersandingkan rinduku
Menjelmakan wajahmu

Selamat Ulang tahun kakakku
Mg pnjng umur n sht sll
Serta sll dlm lindungan Allah Swt
Mg hri penuh berkah u mu
Di bilangan hari yg trs berlari
Meninggalkn qt di percakapan hari yg kian batu

Pku, 10/12/10

Senin, 06 Desember 2010

Renungan : Selamat Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1432 H



Tahun baru hijriyah mengingatkan kita kpd kejadian spektakuler yg pernah terjadi dlm sejarah Islam, yaitu peristiwa “hijrah”. Hijrah secara harfiah artinya perpindahan dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kawasan ke kawasan lain, atau perubahan lokasi dari titik tertentu ke titik yg lain. Secara historis, hijrah adalah peristiwa keberangkatan nabi besar Muhammad SAW dan para sahabatnya dari kota Makkah menuju kota Yathrib, yg kemudian disebut al-Madinah al-Munawwarah.

Hijrah di zaman sekarang mengandung makna lebih dalam yaitu semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa opimisme yg tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal2 yg buruk kpd yg baik, dan hijrah dari hal2 yg baik ke yg lebih baik. Perpindahan dari hal-hal kekufuran kepada hal-hal yang diridhoi Allah SWT.

Dan memasuki tahun baru ini, Sudahkah ku jauhkankah ku dari segala kekufuran? Sudah hijrahkah aku?

Sedangkan aku masih sering melayang dalam sholatku, mhadir2knMu dalam khusyu’ku,

Dan sedekahku, ah...aku malu,,,juga masih kuhitung rejeki ku, padahal kan rejekiku itu sudah Allah tetapkan untuk ku…

Membaca Al Qur’an? masih lebih banyak aku membaca majalah atau membaca buku.

Puasa sunnahku hanya terhenti di ujung cawan.

Qiyammul Lail ku? masih belum kudapatkan kekusyu’an itu…

Dan ukhuwahku, masih kuselipkan sebuah kepentingan disana..

Dan baktiku, masih belum dapat kusenangi hati kedua orang tuaku, dengan segala keterbatasan yang kuhadirkan sebagai alasan.

Ya Allah kau ciptakan Manusia termasuk aku, dengan penuh kemuliaan, tetapi setelah ku tercipta, ku jalani hidupku dengan kelalaian.

Ya Allah aku memang tidak semulia pada saat engkau ciptakan aku, tetapi apakah aku dapat terus berusaha untuk mendapatkan kemuliaan itu kembali dihadapanmu nanti di akhir hidupku?

Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diriku ini dan lebih dapat mendekatkan diriku padaMU
Dalam lisanku sering ku ucapkan bahwa KAUlah satu-satunya Sesembahanku, tetapi dalam keseharianku KAU sering ku tinggalkan demi sesembahan yang lain, dunia.. Astaghfirullah..

Ya Allah, jangan kau marah pada ku, jangan palingkan wajahMu dariku sedetik pun, jadikanlah aku diantara penerima anugerah dan karuniaMu, krn Engkaulah sang pemberi ijabah. ku tak tau apa yang harus kuperbuat bila kudapatkan marah MU dan tak kupunya lagi hidayah MU.................

Sabtu, 04 Desember 2010

TMII, ngumpul kangen

FIKIRAN DAN SAMADI



Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat yang lain; Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. Dan kita yang diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya melihat susuk yang menghalangi dan merintangi jalan kita.

Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgahsana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu ; merenggut mahkota kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka.

Cinta lalu di depan kita, berjubahkan kelembutan ; tapi kita lari ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan mengikutinya, untuk berbuat kejahatan atas namanya.

Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok kerana memikul beban Cinta, tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon yang berpuput riang.
Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lazat dan anggurnya ; tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan dengan lahap dan rakus.

Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya ; tapi kita takut akan keheningannya, lalu bergegas lari ke kota yang ramai, berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing yang lari ketakutan dari serigala garang.

Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya bagaikan musuh.

Hati manusia menyeru pertolongan ; jiwa manusia memohon pembebasan ; tapi kita tidak mendengar teriak mereka, kerana kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya. Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita sentiasa ketakutan.

Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar. Kita memijak-mijak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan memamah hati kita. Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup.


*Khalil Gibran*

Rabu, 01 Desember 2010

Tentang seorang Ayah



"Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.

Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?" Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab : "Sebab aku lelaki."

Anak perempuan itu berkata sendirian : "Aku tidak mengerti"...
Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki." Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya" .

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya. "

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya" .

"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya. "

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu
akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga ( seri / penyokong ), agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."



By. Kisah-kisah

Senin, 29 November 2010

IBU



Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.


Kahlil Gibran

Minggu, 28 November 2010

Untukmu




Ada setangkup haru menyusup,
Ketika kutangkap bahagia di wajahmu
Apa yang dirasa hatiku kemarin,
Malam ini merekah di senyummu,
Seketika
Mengalirlah larik-larik bait
Tentang bulan yang jatuh di muara
Dan begitulah kita, selalu satu dalam rasa

Setelah sekian lama rentang waktu
Mempermainkan kita,
Yang memaksa kita menangis, kecewa dan putus asa
Juga tak percaya
Tapi alam sadar kita segera berkacak
Bahwa semua hanya cara Tuhan
Untuk menempatkan kita
pada labuhan yang sebenarnya..
yang dimimpii hatimu dan dimimpii hatiku..

dan malam ini,
senyumku melukis harapanmu
harapan kita....
Untukmu aku sungguh berbahagia...

Sabtu, 27 November 2010

Sang Rasa

Sedih itu telah mbatu d htiku
Karena air mata tdk mngalir d pipiku
Tapi jatuh tetes demi tetes
Membasahi dinding hatiku
Menggigilkan matahari
Cercah cahayany seolah tak mampu mnyusup ruang htiku
Aku tetap kedinginn dbawah teriknya
Tetap kesunyian d tengah gelak tawa

Aku tau
Aku masih punya rasa
Aku selalu mendatanginya
Selalu bertanya apa kabar rasaku hari ini?
Dia tersenyum
Tapi aku menangis mlhtnya
Karena kesedihan tetap brsama sang rasa

Aku pun prgi mninggalkannya
Dengan janji kembali esok hari
Membawa rasa baru untuknya
Agar ia tersenyum dg bahagia..

Nyanyian Ombak

Untaian hati berlarian
Memikat jingga d kaki langit
Detaknya bergemuruh
Seiring nyanyian ombak
Suka pecah d pantai
Luka berkawan camar
Mengepak sayap sebelah
Mengusung senandung galau
Mengangkasa k langit jingga
Mengepung benih2 harapan
Menjemput malam bertabur bintang
Mlantunkan nyanyian ombak
Memainkan tarian angin
d atas gelombang
Berteman buih
Dalam ketidakberdayaan
d ujung pengharapan..


Crbn,28/2/10

Kutitipkn pada magrib

Kutitipkan pada magrib, ketika kau brlalu d antara gemuruh dan guntur brsahutan
Ketika langit siap mmuntahkan hujan..
Ketika azan akan segera berkumandang
Tak ada kata terucap, hanya sejumput pilu berlarian d pinggir hatiku
Sudah kulupa warna cinta d wajahmu
Karena begitu lamanya waktu
Menjarah bahagia, di antara masa yg berjumpalitan
Mencabik hari hari
Berbalut luka, menggumpal pada awan air mata
yang selalu kutitipkan pada magrib
Agar tak batu dalam hatiku, menjadi butir butir benci.

Kutitipkan pada magrib, Cinta yg tak pernah pupus
Bersama pergimu hari ini..

Pku, jan 10
no matter what happened, I will always love u, father..

Tetaplah Bintang

Sepiku memagut resah.,
yg menggantung d langit langit kamar..
Dalam temaram cahaya,
jatuh..
Berpendar d lantai..

Kupungut ragu,
yang brserakan, serabutan.
Kutitipkan pada malam,
berlalu hilang..
Debar rasa berkecamuk,
asa tak tentu
Dalam harapku, berpagut resah.
Yang tak jua reda..
Brsanding doa d ujung malam.
tak inginku khilangan bintang.

crbn, 23/2/10

Masih kuingat


Masih kuingat jelas nada suaramu
Bagai karangan bunga mengusung cinta
Menabur benih2 kasih pada pagiku yang retak
Saat air mata membuncah
Ketika resah mendera
Ketika takut berpacu dengan detak jantung
Ketika harapan mulai pupus d angan
Menyamak pikiranku nelangsa
Bagaimana hari ini.?
Pagi yang gundah

Masih jelas kuingat nada suaramu
Memagut rindu seperti waktu lalu
Kau hadir melintas ruang
Dari segala sudut engkau tersenyum
Dari segala arah kau raih tanganku
Saat terjatuh dalam lemahku.

Masih jelas ku ingat nada suaramu
Memenuhi dinding pengap kamarku
Bagai tetes2 embun mengusung satu kesejukan
Temaniku menyisir tepi hari

Crbn, 7/3/10

Mungkin


Mungkin karena waktu yg tidak tepat
Hingga kau biarkan aku terbiar
Asing di tengah keramaian
Carut marut kebingungan
Mengambang dalam keterbatasan akalku, untuk mengerti

Pelangi jadi satu warna
Hitam
Pekat di kaki langit
Kuyu di ujung hari menanti masa ketika
Engkau melukis hari
Dengan coretan coretan laut, gunung juga matahari
Bumi yang penuh hujan, malam yg penuh bintang

Mungkin karena waktu yang tidak tepat
Pagiku mendung menanti hujan
Malamku senyap menanti bintang
Siangku gelap dalam terang
Mungkin...

Crbn, 9/3/10

Sebut namaku dalam doamu


Tawaku terhenti pada senyum kecut
Tak jelas bentuknya dalam nada
yang kucoba mainkan dengan indah
Melantun tenang
Meredam lautan gemuruh
Gelombang kekuatiran mendera rasa
Terombang ambing dalam pekat
arah tak tentu

Tanyamu menghentak sadar,
takutku bergayut di langit langit
Gemetar dalam bisu
Terpuruk gamang dlm hentak langkah tak pasti
Tersimpan rapi pilu
Dalam rangkaian kata terbaik, berpoles sedikit kebohongan
harus kupersembahkan
Meski satu butir mengalir
dalam sumbang suara yg tak jelas
kau tangkap warnanya.

Wahai...tenanglah..
dalam cemasku mengapung memasung jujur
Meredam cemasmu, dalam langkahku yang merapuh
dalam semak duri melukai kakiku
Menapaki jalan bukit berbatu, terkadang menurun terjal
ranting yang kupegang patah
Menggulirkan tubuhku di daratan hampa
Terpaku diam menatap senyap
dengan sungging senyum tak berbentuk

maaf ibu..
harus kurangkai semua ini, dalam karangan bunga warna warni
Agar terlihat indah d matamu.
Dalam nada turun naik merdu
agar nyaman di telingamu
Karena tak inginku..
senyummu hilang dengan semua ini..
Tenang...tenanglah...
Sebut saja namaku dalam doamu..

clgn, 17/3/10

Jumat, 26 November 2010

Menanti




Malam ini diam tanpa kata,,
Dedaun bungkam tak bersuara
Helainya meragu, menanti angin semilir
Yang sedari tadi tak terdengar desaunya..
Sementara di langit, awan menggulung bintang

Dalam diam tak bergeriak,
Kurogoh batin yang merapuh,
Kutebar harap diujung jemari
Menjelmakan Engkau di singgasana hati
Yang sering kulalaikan dalam warna warni pelangi

Disini aku tersungkur,
di bumiMu Aku bersimpuh,
menjejalMu dengan bait mengalir deras
keluhku,
kesahku
serpihan-serpihan hatiku

DilangitMu,
kutebarkan coretan-coretan larik hati
menyusup di mega-mega
diiringi butir-butir kalimat azimat
diteras langit menanti..
hadirlah Engkau bersama angin..


Pku, 26/11/10

Kamis, 25 November 2010

NYANYIAN SUKMA



Di dasar relung jiwaku
Bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu
yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku
dalam jubah yg nipis kainnya, dan mengalirkan sayang,
Namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?

Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya
bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu

Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,
Dan dilipat oleh kebenaran,

Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan ‘Cain’ atau ‘Esau’ manakah
Yang mampu membawakannya berkumandang?

Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahsia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra
dengan kicau bening burung malam?

Siapa yang berani membandingkan deru alam,
Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani
melagukan kidung suci Tuhan?
(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

Khalil Gibran

MALAM



Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,

Ketika aku sampai di pantai, kabut dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.
Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:

“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :
“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”

Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

‘Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.’

Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.


Khalil Gibran

LAGU OMBAK



Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakrawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba
Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa
Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.


Kahlil Gibran

Rabu, 24 November 2010

Di Suatu Malam, di Suatu Pagi



Malam itu bulan tersenyum,
jumawa di pendar cahaya gemintang.
Awan pun tau diri ,
mengaburkan dirinya ke dalam angkasa malam terbentang.
Semakin sempurna lukisan malam.

Sementara dibalik jendela
Satu wajah termangu, mereka-reka arah
Melewati helai-helai malam lamban bergulir
Seirama detak jantungnya berpacu
melukis satu wajah penuh rindu menunggu.

Jauh sudah jarak tertempuhi
Tak sedikit duri menujam,
Tak terhitung kata berbaris
Dalam tangis, dalam tawa...
Dan sebentar lagi, tuntas niat tertunaikan
Dimana senyum merekah dalam rangkul persaudaraan
Cinta dan sayang

Dan pagi itu,luruh sudah
Dalam keterpakuan
Semuanya tumpah ruah
Tak terlukiskan kata,
Matahari merekah berpadu tawa dan celoteh
Haru penuh rindu...

Malam itu,
Pagi itu,,
Kulukiskan disini
Malam ini...



Pku, 24/11/10

Selasa, 23 November 2010

Merindui malam, merintik hujan




Kelam langit malam ini,
Akan kah hujan subuh nanti,
Sekelebat gemintang
Berpendar menembus kelam
Kemudian memudar, tinggalkan kelam
Semakin kelam

Orang-orang bergegas, rebah
Lepaslah segala beban sehari tadi
Lelap merangkul mimpi
Tak hirau desau angin bersanding gerimis
Mulai menabuh daun-daun,
Seketika jangkrik pun berhenti bernyanyi

Hening,,
Senyap,,
Hanya bilur-bilur angin berbisik
Menyapa satu jiwa yang terjaga
Menanti hujan merintik
Seperti mendahagai musim bunga di musim gugur
Sesaat,,
Gerimis berhenti, seiring desahnya yang serupa gumam
Hujan tak turun malam ini.

Pku, 23/11/10

DUA KEINGINAN



Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman — berhati-hati tidak menyentuh apapun — sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, “Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku.”

Dan si kaya berkuasa itu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana , carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan.”

Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.

Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku.”

“Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia — dan dalam bisikan ia berkata, “Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu.”


Khalil Gibran

CINTA YANG AGUNG



Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu..

Apabila cinta tidak berhasil
…Bebaskan dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..

Tapi..ketika cinta itu mati..
kamu tidak perlu mati bersamanya

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh..

#Kahlil Gibran#

AKU bicara perihal Cinta????…




Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.

Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia
kan menyalibmu.
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.
Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.

Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;

Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.
Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.

Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.
Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.


#kahlil gibran#

Senin, 22 November 2010

Pesan Tak Sampai




Kutau senyum ini sumbang
Serupa malam yang kehilangan bintang
Tapi tetap merayap,
merambahi detik-detik lamban berjalan
sempurnalah kegelapan.

Di kejauhan angin memekik
Menghantar kesunyian bersandingkan pekat
Seolah waktu berhenti
Tatkala desirnya usapi dedaun berselimut embun
Semakin beku berbungkus kabut

Barangkali,
Kesunyian ini tidak pernah sampai padamu
Karena sang angin berhenti disini
Diam,,
Tak pun bercerita tentang engkau
Barangkali juga berhenti memberi kabar
Pesan yang kusampaikan
Tercecer di akar rerumputan..

Barangkali..
Jejak kita terhapus hujan semalam
Bersarang di semak-semak
Tapi tetap kujelajahi, meski mulai samar
Kupunguti tiap helainya
Kusimpan rapi dalam kotak kenangan..
Tak lekang..


Pku, 22/11/10

Minggu, 21 November 2010

SURAT DARI KEKASIH



Untukmu yang selalu Kucintai,

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu….
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja…
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.
Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,

Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan, tetapi engkau tidak melakukannya…..

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu an berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.

Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…

Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan

Subuh lagi kau masih tidak mempedulikan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU….

Apakah salahKu padamu …? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.
Yang selalu bersamamu setiap saat,

Tuhanmu….


-: Khalil Gibran :

Sabtu, 20 November 2010

PERCAKAPAN TENTANG TUHAN DAN KEYAKINAN




Seorang profesor filosofi yang atheis berbicara dalam kelasnya mengenai masalah antara ilmu pengetahuan dan Tuhan. Dia bertanya pada salah seorang mahasiswa baru.

Profesor (prof): Jadi, kamu percaya pada Tuhan?
Mahasiswa (ms): Tentu, prof.
Prof: Apakah Tuhan itu baik?
Ms: Tentu
Prof: Apakah Tuhan mahabisa?
Ms: Ya
Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia telah berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Sebagian besar manusia, teman-teman sekitar kita akan menolong orang yang sakit. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana Tuhan seperti ini bisa bisa dikatakan baik? Hmm?
Ms: (Mahasiswa diam)
Prof: Kamu tidak dapat menjawab bukan? Mari kita mulai lagi. Apakah Tuhan itu baik?
Ms: Ya, tentu.
Prof: Apakah iblis itu baik?
Ms: Tidak
Prof: Dari mana datangnya iblis?
Ms: Dari....Tuhan.
Prof: Tepat. Sekarang katakan padaku, apakah di dalam dunia ini terdapat iblis?
Ms: Ya.
Prof: Iblis berada dimana-mana bukan? Dan Tuhan tidak berbuat apapun bukan?
Ms: Ya.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan iblis?
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Di dunia ini terdapat kesakitan? Kematian? Ketakutan? Kejelekan? Semua ini merupakan hal-hal yang mengerikan yang ada di dunia ini bukan?
Ms: Ya, prof.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan hal-hal tersebut?
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa kamu mempunyai 5 indera yang dipakai untuk mengetahui dan mengamati lingkungan sekitarmu. Katakan padaku nak, pernahkah kamu melihat Tuhan?
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Katakan padaku, apakah kamu pernah mendengar suara Tuhan mu?
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Pernahkah kamu menyentuh Tuhan mu, merasakan Tuhan mu, mencium keberadaan Tuhan mu? Pernahkah kamu mempunyai pengalaman dengan inderamu mengenai kehadiran Tuhan?
Ms: Tidak pernah, prof.
Prof: Lalu kamu masih percaya kepada Nya?
Ms: Ya.
Prof: Secara emperis, terukur, percobaan perlakuan, ilmu pengetahuan mengatakan Tuhan mu tidak eksis. Apa yang dapat kamu katakan mengenai itu, nak ?
Ms: Tidak suatu apapun. Saya hanya mempunyai keyakinan saya.
Prof: Ya, keyakinan. Itulah masalah yang dihadapi ilmu pengetahuan.
Ms: Prof, apakah panas itu ada?
Prof: Tentu.
Ms: Dan tentu juga ada yang namanya dingin?
Prof: Ya.
Ms: Tidak prof. Itu tidak benar.
(Ruang perkuliahan itu menjadi sangat hening)
Ms: Prof, kau dapat merasakan panas. Lebih panas, super panas, mega panas, sedikit panas, atau tidak panas. Tapi kita tidak mempunyai `dingin'. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol dimana tidak terdapat panas. Tapi kita tidak dapat lebih dari itu. Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah suatu kata yang digunakan untuk mengambarkan ketidakadaan panas. Kita tidak dapat mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah lawan dari panas, prof, hanya ketidakadaan dari panas. (Keheningan terasa saat mahasiswa tersebut berhenti bicara)
Ms: Bagaimana dengan kegelapan prof? Apakah ada yang namanya kegelapan?
Prof: Tentu. Apakah malam itu jika tidak ada kegelapan?
Ms: Kau salah lagi prof. Kegelapan adalah ketidakadaan dari sesuatu. Kau bisa mendapatkan cahaya redup, cahaya normal, cahaya terang, cahaya yang berkedip-kedip. Tapi jika kau tidak mempunyai cahaya, kau tidak memiliki apapun dan itu disebut kegelapan, bukan? Dalam realitas kegelapan itu tidak ada. Jika ada, kau akan mampu membuat kegelapan semakin gelap bukan?
Prof: Jadi, apa maksudmu anak muda?
Ms: Prof, maksudku adalah premis filosofismu terbantahkan.
Prof: Terbantah? Dapat kau jelaskan bagaimana?
Ms: Prof, kau mencoba menjelaskan dalam premis dualitas. Kau berpendapat bahwa ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Kau melihat konsep keTuhanan sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat kita ukur. Prof, ilmu pengetahuan bahkan tidak dapat menjelaskan suatu pikiran. Pikiran menggunakan listrik dan magnetik, tapi tidak pernah terlihat, tidak pernah dipahami sepenuhnya oleh siapapun. Untuk melihat kematian sebagai lawan dari kehidupan adalah tidak peduli terhadap kenyataan bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substansial. Kematian bukanlah lawan dari kehidupan, hanya ketidakadaan kehidupan. Sekarang, katakan padaku prof, apakah kau mengajarkan mahasiswamu bahwa mereka merupakan hasil evaluasi dari monyet ?
Prof: Jika kau menarik referensi dari proses evaluasi alam, tentu, saya mengajarkan hal tersebut.
Ms : Pernahkah kau mengamati proses evaluasi dengan mata kepalamu sendiri prof ?
Prof: (Profesor tersebut menggelengkan kepalanya dengan sedikit tersenyum, mulai memahami kemana pembicaraan tersebut mengarah).
Ms : Karena tidak ada seorangpun yang pernah mengamati bagaimana proses evaluasi dan bahkan tidak dapat menjelaskan bahwa proses ini masih terus berjalan, apakah kau tidak mengajarkan sesuatu yang hanya pendapatmu, prof?
(Kelas menjadi riuh dengan bisik-bisik pelan para mahasiswa)
Ms: Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak professor?
(Seketika terdengar tawa riuh dalam kelas)
Ms: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak professor, menyentuhnya, merasakannya, atau menciumnya?... Tidak seorangpun bukan. Jadi, menurut ketetapan empiris, percobaan perlakuan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak mempunyai otak. Dengan segala hormat prof, jadi bagaimana kami dapat mempercayai kuliahmu, prof?
(Ruangan menjadi hening. Profesor memandang kepada mahasiswa tersebut, mukanya tidak dapat di tebak)
Prof: Aku rasa, kau dan teman-temanmu harus melihatnya dengan keyakinan, nak.
Ms: Tepat prof…penghubung antara manusia dan Tuhan adalah KEYAKINAN. Itulah yang menjaga semua hal bergerak sebagaimana mestinya dan kehidupan tetap berjalan.

Salut deh buat yang bikin cerita, tapi sebelumnya saya pernah membaca kalau mahasiswa itu bernama Albert Einstein. Cerita yang hebat, semoga bermanfaat....

sumber :FIANZONER.blog

7 ALASAN MENCELA DIRI

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,

pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket
dihadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah
ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan coba menghibur diri
dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kali, ia menghindar karena takut, lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai

Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat

-.:Kahlil Gibran:.

Jumat, 19 November 2010

ANTARA PAGI DAN MALAM HARI



Tenanglah hatiku, karena langit tak pun mendengari
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari telanjang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?

DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kokoh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.
KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.

Aku berbicara dalam hati,”Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya.
” Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?”

Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.

Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,”Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang.”

Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,”Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan.”
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.
PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya.

Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon , wangi bak wangi-wangian dari melati.

Aku menjerit,”Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, karena rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!”
Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, karena langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu.

Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.

Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata, “Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan.”

Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni – kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.

Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota , memukul gendang dan meniup seruling.

Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,”Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh gelas warna telah kudustai mata mereka”
Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.

Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa biji emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.

Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, “Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet”

Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota , tak seorang pun memerhatikan diriku.

Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka.
Lalu mereka berpaling dariku.

Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.

Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.

Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.

Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.

Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.

Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.

Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.

NUN di sana ! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?

Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?

Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak berganjak dan berjalan bersama mereka?

Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, karena malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.

Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.

-.:Khalil Gibran:.

jendela terakhir




malam tersentak, tergugu
memagut rindu mengumpul
sayapnya mengepak di semua jendela
melongok dengan mata penuh harap
tak jua wajahmu disana

sekali lagi, sayapnya merentang
lunglai menyergap hati
yg tak henti melafaz namamu
detak jantung memacu gelisah
seperti kehilangan denyutnya

duhai...
berasakah gerimis mulai turun
berganti hujan sebentar lagi
namun sayapnya tetap hinggapi tiap jendela
belum juga engkau disana
menjelmalah hiks..hiks

disinilah,
dijendela terakhir
sayapnya terkulai layu
erangannya menali langit
gemetar bibirnya berbisik
“jangan...
jangan tinggalkan aku
biarkan...
satu jendela ini tetap terbuka
agar selalu bisa
kulihat engkau dari sana”


Pku, 19/11/10

Kamis, 18 November 2010

KepadaMu Aku Pasrah

KepadaMu aku pasrahkan
seluruh jiwa dan ragaku
Hidup dan mati ada di tanganMu
Bahagia, sedih ada di jariMu

Cukup lama aku mencari,
menembus pekat dan menerjang kelam,
menyusuri langkah yang makin jauh
Adalah firmanMu pemandu jalanku

Batu gunung tetap tegap tegar
meski angin geram menerpa
Batu karang tak hendak terhempas
meski ombak menerjang terjang
Rindu keteguhan imanku
Hamparan langit biru ho ho
Kering air mata hapuslah duka
Adalah firmanMu pemandu jalanku

KepadaMu aku memohon
nyalakan semangat, bangkitkan nyali,
robohkan tantangan ombak lautan
Rahasia hidup mesti terpecahkan

Selasa, 09 November 2010

Di suatu sore, di langit yg tak sephia



Sore tadi langit tak berwarna sephia
Tak seperti biasanya,
ketika aku lewati jalan ini diantara pepohon.
Kemilau senja yang biasa merona
Kini berselimut kabut

Sepanjang jalan, diam dalam gemuruh
Segala kata-kata bergumul dalam diam
Sesaknya melebihi pekat langit
Yang menutup awan yang sephia
Hanya kabut di kepulangan senja



Dalam hati bergumam
begitulah manusia
Hanya melihat pada yang tampak saja
Seperti kabut sore ini
Menutup awan yang sephia,
Langit yang jingga..
Tak kah terlihat.?
Dibaliknya selaksa warna


pku, 09/11/2010

Minggu, 17 Oktober 2010

Hening

Di hamparan malam ini
Aku tengadah memandang langit
Satu-satu bintang bermunculan
Setelah sesaat
hilang
tatkala langit menurunkan hujan

Malam ini diam,
angin pun diam
Tak ada desir
Hening senyap
Di hati
Di bathin
Sepi...
Merambati tubuh malam
yang terus mendaki sunyi
senyap

di kedalaman hati
diam mengalun
menyanyikan senandung
tak bersuara
hanyut dalam sunyi
hening
senyap
.......

Sabtu, 16 Oktober 2010

Potret -potretmu

Hari ini aku terpaku di hadapan potretmu
Selaksa gemuruh bernyanyi pilu menatap senyum hambar terpatri
Garis-garis luka bergayut di tepian senyummu
Tertangkap nanar di sinar matamu
Padahal ini adalah potret terbaik dari seribu potret
Yang kupungut sepanjang perjalananku
Sampai di detik ini.

Hari ini kuusapi liku-liku wajah-wajahmu.
Kusandingkan kalian dalam bingkai berbunga
Yang baru usai kusatukan tadi malam
Dalam satu lembar kertas, nyata di tanganku
Tapi semu di yang sebenarnya...
Jangan memarahi kelakuanku, jika diam-diam
Kumimpikan kalian bersanding layaknya
Raja dan Ratu sehari dahulu..

Tadi malam, sehabis daya kutambali
Kerutan-kerutan di wajah-wajahmu,
Dengan selaksa rindu kualirkan di ujung kuas
Harapku, menyatu di wajah-wajahmu.
Merasai segenab jiwaku yang lelah menyatukan kalian
Di kehidupanku, dan pada akhirnya aku berhenti
Karena tetap saja di atas kertas ini wajah-wajahmu
Kaku, seolah tak rela kusatukan kalian...
Meski hanya di satu kertas saja...
Ah..



Pku, 16/10/10

Jumat, 15 Oktober 2010

Suatu senja di ujung muara



Kepenatan membawaku kesini, kala merah merona di batas cakrawala, menunggu senja jatuh di ujung muara, menghamparkan lukisan langit di riak yang berwarna, kilaunya seolah berlarian mengiring sang matahari pulang ke pangkuan malam.

Di senja itu kunikmati angin menyapu wajah letih, di sela bibir tak henti melafaz namaMU. Di teras langitMu aku berdiri, di atas keyakinan tanganMu menyentuhku, disini. Bersiraman cinta dari ujung rambut sampai ujung kakiku, yang tak cukup lautan untukku jadikan tinta menuliskan semua anugerah nikmat yang tercurah di setiap hela nafasku.



Di dalam keletihanku, hanya Engkau labuhanku. Yang selalu kucari di setiap sudut bumi yang kupandangi, dalam bentangan lukisanMu, yang jatuh di ujung muara ini. Di sapuan angin senja yang melayu kutau Engkau melihatku termangu. Wahai Rabbku, wahai teduhanku. Inilah aku dengan segala kelemahanku, dengan segala keterbatasan akalku untuk mengerti dan mencernai setiap kejadian mewarnai gerit perjalanan waktu yang berlalu dihari-hariku.



Di senja ini aku merepih ramainya gemuruh didadaku, laksana nyanyian kehilangan nada, hanya gemuruh tak bersuara mengetuk palung hati yang ingin kuluapkan disini, seiring matahari tenggelam di ujung muara........

Tembilahan, 14/09/10

Minggu, 03 Oktober 2010

Warna Warni Kehidupan

Pagi itu aku terjebak dua kali di lampu merah. Tak seperti biasanya kali ini aku menikmatinya sambil bernyanyi dan memperhatikan wajah-wajah disekitarku, pagi ini sepertinya lebih padat dari biasanya. Dalam hati aku berpikir apa mungkin pertumbuhan penduduk Pekanbaru bergitu cepat dalam semalam. Ah..tak perlu dipikirkan terlalu jauh. kenyataannya sekarang aku disini, berada diantara wajah –wajah tak sabar menunggu lampu berganti warna hijau. ada yang tampak tenang ada juga yang menggerutu pelan sambil mengetuk-ngetuk batok motornya dengan jari. Mungkin saja dia lagi dikejar deadline pekerjaan yang harus siap pagi ini sementara dia terjebak di lampu merah. Sejenak mataku tertuju pada nissan extrail warna hitam di depanku. Mobil impianku. Aku masih jelas melihat pengemudinya dari balik kaca mobil. Seorang laki-laki setengah baya duduk tenang di belakang kemudi. Amboi. Alangkah nyamannya jika aku yang duduk disana, mobil yang sangat kusuka. Hm..aku tersenyum simpul. Tuhan. Tidak salahkan jika hambamu ini sedikit bermimpi.? Toh tidak ada yang tidak mungkin bagiMu. Tapi kembali aku berpikir, dengan penghasilanku berapa lama aku harus berjuang untuk mendapatkan mobil itu. Aih ..mimpi yang konyol.

Kemudian mataku beralih kepada para penjaja koran yang dengan wajah penuh semangat dan senyum lebar menawarkan koran kepada para pengendara motor dan mobil. Bajunya sedikit kumal, dan sendal jepit yang juga kumal. Kembali aku berpikir, ini baru sekelumit perbedaan nasip yang kulihat. Hanya disatu tempat yang sempit ini terlihat perbedaan yang begitu kontras, belum lagi diluar dunia sana. Ini baru hanya di perempatan lampu merah. Mungkin sesungguhnya dalam hati mereka ingin kehidupan yang lebih baik dari sekedar penjaja koran. Tapi sepertinya saat ini itulah peran yang sedang mereka perankan. Sama sepertiku, menjalankan peranku yang mungkin sedikit lebih beruntung mempunyai pekerjaan yang mungkin di anggap lebih baik oleh mereka. Meskipun hidup adalah pilihan, aku rasa mereka juga tidak pernah memilih untuk menjadi penjual koran, tapi nasip yang menempatkan mereka disitu, atau lebih tepatnya mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi penjual koran untuk tetap bisa bertahan hidup ditengah alur kehidupan yang terus berpacu.

Tapi mungkin memang seperti inilah harusnya, apa jadinya jika semua orang berprofesi sama, siapa yang akan mewarnai lampu merah ini dengan jajaan koran di tangan. Atau siapa yang akan menjadi tukang sapu jalanan, atau siapa yang akan menjadi atasan atau bawahan. Begitu seimbang sebenarnya kehidupan ini berjalan jika semua berada pada porsinya masing-masing, dan tidak menyeberang pada porsi orang lain yang belum tentu kita bisa menjalani. Bukankah masing-masing kita sudah berada di jalurnya masing-masing untuk memberi warna pada dunia.

Dan apapun pekerjaan yang kita lakoni, bukankah yang terpenting adalah kita menjalankannya dengan baik. Apa artinya kita mempunyai pekerjaan yang baik tapi kita tidak bisa melakukannya dengan baik...hm..:)

Jumat, 01 Oktober 2010

Di satu senja di bukit berlapis kabut



Disinilah aku waktu itu, di satu senja dilereng bukit, tatkala matahari menjatuhkan kilaunya dibalik bukit berlapis-lapis diselimuti kabut. Nun dibawah sana, hamparan pesona tergolek. Rumah-rumah di tengah rimbunan. Tenang menyimpan kesunyian, juga rumahku. Tergeletak dalam kenangan menjemput rindu dalam tarian bocah mungil yang senantiasa berkicau memecah kesunyian seiring nyanyian burung-burung.

Hamparan ini tetap elok, meski pematang telah berganti jalanan berbatu. Gurun tempatku bermain layangan juga telah berganti kebun tomat. Dari sini aku berlarian mengitari setiap sudut waktu dan jejak yang kuukir dibawah sana. Disana ada pematang yang menggelincirkan aku bermandikan lumpur. Disana ada pohon jambu yang hampir mematahkan tanganku. Disana ada banyak cerita, yang seperti berebut mengukir kertas putihku dengan aneka warna pelangi, juga abu-abu.

Disinilah aku waktu itu, di satu senja di lereng bukit berlapis kabut, merekam hamparan elok ini. Yang entah kapan bisa kujejak lagi....