Minggu, 17 Oktober 2010

Hening

Di hamparan malam ini
Aku tengadah memandang langit
Satu-satu bintang bermunculan
Setelah sesaat
hilang
tatkala langit menurunkan hujan

Malam ini diam,
angin pun diam
Tak ada desir
Hening senyap
Di hati
Di bathin
Sepi...
Merambati tubuh malam
yang terus mendaki sunyi
senyap

di kedalaman hati
diam mengalun
menyanyikan senandung
tak bersuara
hanyut dalam sunyi
hening
senyap
.......

Sabtu, 16 Oktober 2010

Potret -potretmu

Hari ini aku terpaku di hadapan potretmu
Selaksa gemuruh bernyanyi pilu menatap senyum hambar terpatri
Garis-garis luka bergayut di tepian senyummu
Tertangkap nanar di sinar matamu
Padahal ini adalah potret terbaik dari seribu potret
Yang kupungut sepanjang perjalananku
Sampai di detik ini.

Hari ini kuusapi liku-liku wajah-wajahmu.
Kusandingkan kalian dalam bingkai berbunga
Yang baru usai kusatukan tadi malam
Dalam satu lembar kertas, nyata di tanganku
Tapi semu di yang sebenarnya...
Jangan memarahi kelakuanku, jika diam-diam
Kumimpikan kalian bersanding layaknya
Raja dan Ratu sehari dahulu..

Tadi malam, sehabis daya kutambali
Kerutan-kerutan di wajah-wajahmu,
Dengan selaksa rindu kualirkan di ujung kuas
Harapku, menyatu di wajah-wajahmu.
Merasai segenab jiwaku yang lelah menyatukan kalian
Di kehidupanku, dan pada akhirnya aku berhenti
Karena tetap saja di atas kertas ini wajah-wajahmu
Kaku, seolah tak rela kusatukan kalian...
Meski hanya di satu kertas saja...
Ah..



Pku, 16/10/10

Jumat, 15 Oktober 2010

Suatu senja di ujung muara



Kepenatan membawaku kesini, kala merah merona di batas cakrawala, menunggu senja jatuh di ujung muara, menghamparkan lukisan langit di riak yang berwarna, kilaunya seolah berlarian mengiring sang matahari pulang ke pangkuan malam.

Di senja itu kunikmati angin menyapu wajah letih, di sela bibir tak henti melafaz namaMU. Di teras langitMu aku berdiri, di atas keyakinan tanganMu menyentuhku, disini. Bersiraman cinta dari ujung rambut sampai ujung kakiku, yang tak cukup lautan untukku jadikan tinta menuliskan semua anugerah nikmat yang tercurah di setiap hela nafasku.



Di dalam keletihanku, hanya Engkau labuhanku. Yang selalu kucari di setiap sudut bumi yang kupandangi, dalam bentangan lukisanMu, yang jatuh di ujung muara ini. Di sapuan angin senja yang melayu kutau Engkau melihatku termangu. Wahai Rabbku, wahai teduhanku. Inilah aku dengan segala kelemahanku, dengan segala keterbatasan akalku untuk mengerti dan mencernai setiap kejadian mewarnai gerit perjalanan waktu yang berlalu dihari-hariku.



Di senja ini aku merepih ramainya gemuruh didadaku, laksana nyanyian kehilangan nada, hanya gemuruh tak bersuara mengetuk palung hati yang ingin kuluapkan disini, seiring matahari tenggelam di ujung muara........

Tembilahan, 14/09/10

Minggu, 03 Oktober 2010

Warna Warni Kehidupan

Pagi itu aku terjebak dua kali di lampu merah. Tak seperti biasanya kali ini aku menikmatinya sambil bernyanyi dan memperhatikan wajah-wajah disekitarku, pagi ini sepertinya lebih padat dari biasanya. Dalam hati aku berpikir apa mungkin pertumbuhan penduduk Pekanbaru bergitu cepat dalam semalam. Ah..tak perlu dipikirkan terlalu jauh. kenyataannya sekarang aku disini, berada diantara wajah –wajah tak sabar menunggu lampu berganti warna hijau. ada yang tampak tenang ada juga yang menggerutu pelan sambil mengetuk-ngetuk batok motornya dengan jari. Mungkin saja dia lagi dikejar deadline pekerjaan yang harus siap pagi ini sementara dia terjebak di lampu merah. Sejenak mataku tertuju pada nissan extrail warna hitam di depanku. Mobil impianku. Aku masih jelas melihat pengemudinya dari balik kaca mobil. Seorang laki-laki setengah baya duduk tenang di belakang kemudi. Amboi. Alangkah nyamannya jika aku yang duduk disana, mobil yang sangat kusuka. Hm..aku tersenyum simpul. Tuhan. Tidak salahkan jika hambamu ini sedikit bermimpi.? Toh tidak ada yang tidak mungkin bagiMu. Tapi kembali aku berpikir, dengan penghasilanku berapa lama aku harus berjuang untuk mendapatkan mobil itu. Aih ..mimpi yang konyol.

Kemudian mataku beralih kepada para penjaja koran yang dengan wajah penuh semangat dan senyum lebar menawarkan koran kepada para pengendara motor dan mobil. Bajunya sedikit kumal, dan sendal jepit yang juga kumal. Kembali aku berpikir, ini baru sekelumit perbedaan nasip yang kulihat. Hanya disatu tempat yang sempit ini terlihat perbedaan yang begitu kontras, belum lagi diluar dunia sana. Ini baru hanya di perempatan lampu merah. Mungkin sesungguhnya dalam hati mereka ingin kehidupan yang lebih baik dari sekedar penjaja koran. Tapi sepertinya saat ini itulah peran yang sedang mereka perankan. Sama sepertiku, menjalankan peranku yang mungkin sedikit lebih beruntung mempunyai pekerjaan yang mungkin di anggap lebih baik oleh mereka. Meskipun hidup adalah pilihan, aku rasa mereka juga tidak pernah memilih untuk menjadi penjual koran, tapi nasip yang menempatkan mereka disitu, atau lebih tepatnya mereka tidak punya pilihan lain selain menjadi penjual koran untuk tetap bisa bertahan hidup ditengah alur kehidupan yang terus berpacu.

Tapi mungkin memang seperti inilah harusnya, apa jadinya jika semua orang berprofesi sama, siapa yang akan mewarnai lampu merah ini dengan jajaan koran di tangan. Atau siapa yang akan menjadi tukang sapu jalanan, atau siapa yang akan menjadi atasan atau bawahan. Begitu seimbang sebenarnya kehidupan ini berjalan jika semua berada pada porsinya masing-masing, dan tidak menyeberang pada porsi orang lain yang belum tentu kita bisa menjalani. Bukankah masing-masing kita sudah berada di jalurnya masing-masing untuk memberi warna pada dunia.

Dan apapun pekerjaan yang kita lakoni, bukankah yang terpenting adalah kita menjalankannya dengan baik. Apa artinya kita mempunyai pekerjaan yang baik tapi kita tidak bisa melakukannya dengan baik...hm..:)

Jumat, 01 Oktober 2010

Di satu senja di bukit berlapis kabut



Disinilah aku waktu itu, di satu senja dilereng bukit, tatkala matahari menjatuhkan kilaunya dibalik bukit berlapis-lapis diselimuti kabut. Nun dibawah sana, hamparan pesona tergolek. Rumah-rumah di tengah rimbunan. Tenang menyimpan kesunyian, juga rumahku. Tergeletak dalam kenangan menjemput rindu dalam tarian bocah mungil yang senantiasa berkicau memecah kesunyian seiring nyanyian burung-burung.

Hamparan ini tetap elok, meski pematang telah berganti jalanan berbatu. Gurun tempatku bermain layangan juga telah berganti kebun tomat. Dari sini aku berlarian mengitari setiap sudut waktu dan jejak yang kuukir dibawah sana. Disana ada pematang yang menggelincirkan aku bermandikan lumpur. Disana ada pohon jambu yang hampir mematahkan tanganku. Disana ada banyak cerita, yang seperti berebut mengukir kertas putihku dengan aneka warna pelangi, juga abu-abu.

Disinilah aku waktu itu, di satu senja di lereng bukit berlapis kabut, merekam hamparan elok ini. Yang entah kapan bisa kujejak lagi....