Selasa, 27 Juli 2010

Lukisan jiwaku


Setiap orang berbeda dalam menyikapi masalah dan persoalan yang mendera, di tengah padang kehidupan yang kering kerontang bagi sang musafir yang kehausan, dikala hari-hari tercabik, tatkala angin tak lagi lembut membelai. Kecewa, sedih, bahagia silih berganti. Warna-warna yang terus berganti. Senyum yang terkikis mendung, tawa ditelan kabut langit berjelaga, dan bagiku tulisan adalah tumpahan jiwa, tinta dan pena adalah karib untukku melabuhkan rasa.

Bagiku tulisan bukan sekedar luapan kata, tapi ia adalah curahan jiwa yang tiap abjadnya adalah makna, suara hati dari tawa dan lara yang kupungut di sepanjang perjalanan hari yang meletih. Ketika yang dilhat bukan yang sebenarnya, ketika semu menggantung di kelopak mata. Ketika jujur terkubur dalam senyum lebar berselimutkan dusta. Wajah-wajah beraneka rupa yang masih bisa tertawa ketika sekelingnya tercekik dahaga.

Bila aku adalah pendebat bisu dalam pertikaian hari yang tak berakhir, disinilah teduhanku untuk berkata bijak, berlapang hujah berperisai kata. Disinilah teduhanku ketika hati tersayat bisa, disinilah teduhanku ketika airmata buncah. Dan disinilah teduhanku dalam bait-bait semangat, segala rasa kelat pahit kutumpahkan disini, berbaris kalimat dan keyakinan serta kepasrahan, tercurah disini. Lukisan jiwaku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar