Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Memetik Bintang

Cukup sudah terkesima
menatap jauh menembus batas langit,
tak berbatas
melewati bintang, menghabiskan malam
dalam sejuta kediaman
cukup sudah....

Sesegera mungkin,
aku harus entaskan lamunan tak berkesudahan ,
ribuan bertanyaan, berbaris menanti jawaban
yang tak selesai dengan andai
yang telah dimulai harus dituntaskan

jangan, jangan pernah hentikan,
tangan yang gemetar bukan isyarat kelemahan
tapi kobaran semangat yang tak tertahankan..
seiring bisikanMu lewat angin
Wahai...
Jangan pernah menunggu bintang jatuh
tapi terbanglah,
mengudaralah,
bentangkan sayapmu
mengangkasa setinggi-tingginya
sampai kau petik sendiri bintang dengan jari-jarimu..

Minggu, 29 Mei 2011

Takdir..?



Kau aku bertemu karena takdir
Itu katamu
Dan telah kulepaskan juga engkau kepada takdir
takdir jugakah itu..?
Atau karena kita telah menyerah
Dan bersembunyi dibalik kata takdir
Ahh..

Minggu, 08 Mei 2011

Kepada Hatiku


Jangan bersedih hatiku.

Memang rasa sudah membatu,

Tapi celahpun masih mungkin bisa ketemu.

Sebab perahu qt masih berlabuh.

Tak apalah jika ,memang begitu.

Karena memang itu hal yang baru dan qt pun selalu berguru.

Adakah tak mendapatkan ilmu?



SADARILAH

Sebelum fajar memergoki qt,

Sedang qt tak berbekal sesuatu,

Dan qt masih cukup waktu untuk menyisir jalan

menguak jendela pengap..

Minggu, 20 Maret 2011

Tulang Rusuk


Pernah ku berpikir
untuk menjadi matahari untukmu
Agar aku bisa mencerahkan harimu
Dengan kelembutan sinarnya di pagimu
Tapi ia hanya ada menjelang senja

Kemudian aku berpikir
untuk menjadi senja untukmu
Menemanimu melewati langit jingga
Menatapi awan yang shepia
Tapi ia juga akan hilang di telan malam

Pernah juga aku berpikir
Untuk menjadi pelangi untukmu
Di batas cakrawala langit melintasi harimu
Mewarnai ceria hatimu
Tapi ia juga sesekali hadir

Akhirnya..aku memutuskan
Aku hanya ingin menjadi tulang rusukmu
Yang akan menaungi hati dan jantungmu
Kapanpun
Dimanapun
Kau berada..

Pku, 20/3/11

Senin, 07 Maret 2011

Untukmu kekasih




Kekasihku...
Telah kubunuh lelah untukmu,
kupangkas rasa kantuk dan malas
yang sering mengganggu
yang seketika lenyap ketika kusadar
engkau membutuhkanku
begitu sering kuhalang waktu
agar tak menjauhkanku darimu
agar aku selalu ada
di saat sedih dan putus asamu

Kekasihku...
Tak henti namamu di ujung dzikirku
Di segenab jiwaku mengharap
jemari Tuhan menyentuhmu
mendekapmu hangat dikala galau
melabuhkan sayapnya disamudera hatimu
agar kau rasa damai,
agar selaksa kekuatan berkumpul
untuk kau pungut di esok hari
yang menyertaimu melangkah
menyisiri hari-hari...


Pku, 07/03/11

Jumat, 25 Februari 2011

Ku tak mampu

Belum juga aku mampu
Menamai setiap bilur di matamu
Meski telah kutatap tajam
Dan kujelajahi sampai ke lubuk terdalam
Aku hanya terpana tak mampu mengeja makna
Selaksa warna berpendar mengundang ragu
Yang berujung pada tanda tanya

Sepanjang jalan yang kita lewati
Tak terhitung kalimat yang berbaris rapi
Melangitkan mimpi, tak hendak kulerai
Senandung lagu cinta yang kau suguhkan
Akankah segera terampungkan
Sementara aku belum juga mampu
Manandai waktu
untukku sudahi tanda tanya...
yang selalu hadir sejak bermalam malam...

Pku, 25/02/11

Minggu, 20 Februari 2011

Pintaku

Sejatinya hidup telah kujanjikan untukMu
Kupersaksikan Engkau Tuhanku
Yang selalu kulafazkan di lima waktuMu
Namun cinta kepada hambaMu telah mencuri waktuku
Meski tak henti kusebut namaMu
Besertakan syukur atas anugerah cinta
Yang Engkau sisipkan di hatiku



Pintaku,
Lindungi aku
Jagalah aku
Ampuni aku
Atas apa yang aku tidak berkuasa
Karena Engkaulah penguasanya
Yang tak pernah bisa kukuasai...
Mudahkanlah jalanku menuju cinta dalam ridhaMu
Agar tak terjatuhku ke dalam jurang cinta semu
Yang menenggelamkanku ke dalam murkaMu
Duhai Rabb pemilik jiwaku..


Pku, 20/2/11

Pagi yang bodoh

Kau dan aku terpana
melewatkan pagi dengan gulana
Menjarah hati yang ceria
Berselimut kemelut yang mengikis senyum
Dan awan kemuraman menggelantung
Menyeret langkah menjejak hari
Di sepanjang jalan yang tiba-tiba saja terasa mendaki.

Kau dan aku tak mengerti
Bukan matahari yang tak ramah pagi ini
hanya kita yang terlalu bodoh membiarkan pagi berlalu
sementara kita sibuk menduga-duga
sehingga terlupa, sesungguhnya kita saling melindungi
kau tak sadar, aku tak sadar
nyatanya kita telah tersakiti....

sepanjang hari bergumam,..
mengeja namamu di setiap helaan nafas
kekasihku, yang lembut hatinya
maafkanlah aku yang sering membuat kesal
meski sering kumarahi diriku sendiri
karena tak kunjung selesai membuatmu kesal......

Pku, 17/2/11

Jumat, 28 Januari 2011

Puisi Parau

Aku mendengarkan saja
Jangrik-jangkrik itu bergembira
Entah apa yang dikatakannya
Begitu riuh,,,
Mungkin sebuah puisi parau untuk sang kekasih
Yang ia rangkai seadanya

Sesekali ia diam, senyap sejenak
Untuk kemudian kembali meneriakkan puisi parau
Barangkali Sang kekasih tersipu,
Atau hanya diam
Sebab malam begitu pekat memagut
Tak jelas rona wajahnya

Tiba-tiba aku ingin mengerti bahasanya
Bagaimana ia menyatakan cinta
Begitu lugas dan sederhana
Tak peduli sang kekasih diam tak bersuara
Tetap saja suaranya gemuruh
Melantunkan puisi parau


Pku, 28/1/11

Sabtu, 15 Januari 2011

Jelajah hati




Sekali lagi, kutatap wajahmu
Dibawah kilapan cahaya lampu temaram
Tak mampu kutangkap yakin
Untuk iya, juga untuk tidak
Aku hanya termangu
diantara selubung kabut yang suram
berkaca pada hatiku sendiri
Riuh dalam gumuruh pikirku nelangsa
Menali langit, memaut hatiku dalam ragu
Jelajahku terhenti di bisu
Terdiam..

Tuhan..
Sejatinya hati ini milikMu
Kukembalikan semua kepadaMu..

pku, 15/1/11

Jumat, 07 Januari 2011

di Suatu Siang, di hati Putih



Siang yang memutih,
Dedaun gigil
disela runtuhan hujan berlarian
menyapa tanah basah
deras menghujam bumi

rerumput tengadah,
menyalami hujan
yang meluncur derasi sekujur tubuh
basah dalam kedinginan
menyergap pucuk-pucuk

sesekali petir menyambar,
di iringi guruh menggelegar
anak dara tersentak,
wajahnya beku menghitung rintik
satu, dua, tiga
dan selaksa..
menyemat satu nama dalam setiap tetes
semakin mengumpul dalam ingatan
mendekap penuh rindu
yang terus penuhi ruang hampa
berisi catatan-catatan hari
tentangmu

siang yang memutih
semakin putih, di wajah putih
di hati putih...

Kamis, 16 Desember 2010

Yang terluka



ada butiran mengalir
ketika kueja namamu dalam doaku
Seingatku cukup lama kita berdiam
Aku tak sadar, kau pun tak sadar
Betapa waktu telah menjarah
derai tawa kita, berbungkus kehangatan
dalam kicauan burung hinggapi reranting
Di belakang rumah kita, disela kabut gunung
Yang perlahan turun hinggap di daun

Tak pernah kulupa
Di punggungmu aku bergayut,
Melalui jalan setapak yang licin
Yang setiap hari kita lewati
Menuju pancuran yang bergemerincing bening
Di celah bukit, dikala matahari turun
Mengintip dibalik celah-celah rindang pepohonan
Dan gigi kita gemeretak menahan dingin
Sebentar lagi senja akan memasuki sunyi

Denganmu aku berlari
menangkap kupu-kupu
Yang selalu saja
Ramai mendatangi kebun bunga
Di depan rumah kita
Seingatku, begitu ceria wajahmu
Meski sering kucuri jatah bermainmu
Dengan segala keegoanku
Tak ada keluhmu, meski terikat di pohon jambu
Semua karena kenakalanku
Masih jelas kuingat garis senyum
Melingkar di wajahmu, dan mata yang berbinar itu

Tapi kini, wajahmu murung tak berbinar
Bola matamu dingin, diam tak terbaca
Tanpa semangat, mengubur harapan
Mulutmu terkunci, diam seribu bahasa
layu tubuhmu menyimpan gumam
entah apa gerangan

Wahai, katakanlah kepadaku, aku masih adikmu
seperti apakah luka yang memerih di jantungmu
Bukan karena cinta tentunya
Mungkin karena putus asa
Kehilangan percaya diri, kehilangan pegangan

Aduhai dengarkanlah kata-kataku, karena aku adikmu
cobalah engkau raih, dari lubuk jiwa paling dalam
Iman....


----------**********------------
Untukmu Abang
Teriring doa dan larik hatiku yang memerih
Selamat Ulang Tahun
Semoga Rahmat Allah selalu menyertaimu
Menyusupkan cintaNya ke dalam dadamu..
di setiap helaan nafasmu

Pku, 16/12/10

Kamis, 09 Desember 2010

Kado Ulang Tahun Untukmu


Hanya semilir angin, menandai waktu
Mendulang wajahmu di bilangan bintang
Merangkai selaksa puisi yg serupa gumaman
Tak jua tersusun dalam tulisan
Layaknya puisi terindah
Dalam kado berpita biru
Yang kuingin kupersempahkan
Dikejap hari, menjemput fajar 10 desember

Selaksa kata bermain di gulana
Tak jua tersusun indah
Hanya larik-larik hatiku, menali angkasa
Mengusung doa-doa menguak pintu langit
Mengeja namamu berulang kali
Bersandingkan rinduku
Menjelmakan wajahmu

Selamat Ulang tahun kakakku
Mg pnjng umur n sht sll
Serta sll dlm lindungan Allah Swt
Mg hri penuh berkah u mu
Di bilangan hari yg trs berlari
Meninggalkn qt di percakapan hari yg kian batu

Pku, 10/12/10

Minggu, 28 November 2010

Untukmu




Ada setangkup haru menyusup,
Ketika kutangkap bahagia di wajahmu
Apa yang dirasa hatiku kemarin,
Malam ini merekah di senyummu,
Seketika
Mengalirlah larik-larik bait
Tentang bulan yang jatuh di muara
Dan begitulah kita, selalu satu dalam rasa

Setelah sekian lama rentang waktu
Mempermainkan kita,
Yang memaksa kita menangis, kecewa dan putus asa
Juga tak percaya
Tapi alam sadar kita segera berkacak
Bahwa semua hanya cara Tuhan
Untuk menempatkan kita
pada labuhan yang sebenarnya..
yang dimimpii hatimu dan dimimpii hatiku..

dan malam ini,
senyumku melukis harapanmu
harapan kita....
Untukmu aku sungguh berbahagia...

Sabtu, 27 November 2010

Sang Rasa

Sedih itu telah mbatu d htiku
Karena air mata tdk mngalir d pipiku
Tapi jatuh tetes demi tetes
Membasahi dinding hatiku
Menggigilkan matahari
Cercah cahayany seolah tak mampu mnyusup ruang htiku
Aku tetap kedinginn dbawah teriknya
Tetap kesunyian d tengah gelak tawa

Aku tau
Aku masih punya rasa
Aku selalu mendatanginya
Selalu bertanya apa kabar rasaku hari ini?
Dia tersenyum
Tapi aku menangis mlhtnya
Karena kesedihan tetap brsama sang rasa

Aku pun prgi mninggalkannya
Dengan janji kembali esok hari
Membawa rasa baru untuknya
Agar ia tersenyum dg bahagia..

Nyanyian Ombak

Untaian hati berlarian
Memikat jingga d kaki langit
Detaknya bergemuruh
Seiring nyanyian ombak
Suka pecah d pantai
Luka berkawan camar
Mengepak sayap sebelah
Mengusung senandung galau
Mengangkasa k langit jingga
Mengepung benih2 harapan
Menjemput malam bertabur bintang
Mlantunkan nyanyian ombak
Memainkan tarian angin
d atas gelombang
Berteman buih
Dalam ketidakberdayaan
d ujung pengharapan..


Crbn,28/2/10

Kutitipkn pada magrib

Kutitipkan pada magrib, ketika kau brlalu d antara gemuruh dan guntur brsahutan
Ketika langit siap mmuntahkan hujan..
Ketika azan akan segera berkumandang
Tak ada kata terucap, hanya sejumput pilu berlarian d pinggir hatiku
Sudah kulupa warna cinta d wajahmu
Karena begitu lamanya waktu
Menjarah bahagia, di antara masa yg berjumpalitan
Mencabik hari hari
Berbalut luka, menggumpal pada awan air mata
yang selalu kutitipkan pada magrib
Agar tak batu dalam hatiku, menjadi butir butir benci.

Kutitipkan pada magrib, Cinta yg tak pernah pupus
Bersama pergimu hari ini..

Pku, jan 10
no matter what happened, I will always love u, father..

Tetaplah Bintang

Sepiku memagut resah.,
yg menggantung d langit langit kamar..
Dalam temaram cahaya,
jatuh..
Berpendar d lantai..

Kupungut ragu,
yang brserakan, serabutan.
Kutitipkan pada malam,
berlalu hilang..
Debar rasa berkecamuk,
asa tak tentu
Dalam harapku, berpagut resah.
Yang tak jua reda..
Brsanding doa d ujung malam.
tak inginku khilangan bintang.

crbn, 23/2/10

Masih kuingat


Masih kuingat jelas nada suaramu
Bagai karangan bunga mengusung cinta
Menabur benih2 kasih pada pagiku yang retak
Saat air mata membuncah
Ketika resah mendera
Ketika takut berpacu dengan detak jantung
Ketika harapan mulai pupus d angan
Menyamak pikiranku nelangsa
Bagaimana hari ini.?
Pagi yang gundah

Masih jelas kuingat nada suaramu
Memagut rindu seperti waktu lalu
Kau hadir melintas ruang
Dari segala sudut engkau tersenyum
Dari segala arah kau raih tanganku
Saat terjatuh dalam lemahku.

Masih jelas ku ingat nada suaramu
Memenuhi dinding pengap kamarku
Bagai tetes2 embun mengusung satu kesejukan
Temaniku menyisir tepi hari

Crbn, 7/3/10

Mungkin


Mungkin karena waktu yg tidak tepat
Hingga kau biarkan aku terbiar
Asing di tengah keramaian
Carut marut kebingungan
Mengambang dalam keterbatasan akalku, untuk mengerti

Pelangi jadi satu warna
Hitam
Pekat di kaki langit
Kuyu di ujung hari menanti masa ketika
Engkau melukis hari
Dengan coretan coretan laut, gunung juga matahari
Bumi yang penuh hujan, malam yg penuh bintang

Mungkin karena waktu yang tidak tepat
Pagiku mendung menanti hujan
Malamku senyap menanti bintang
Siangku gelap dalam terang
Mungkin...

Crbn, 9/3/10