Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

Suatu senja di ujung muara



Kepenatan membawaku kesini, kala merah merona di batas cakrawala, menunggu senja jatuh di ujung muara, menghamparkan lukisan langit di riak yang berwarna, kilaunya seolah berlarian mengiring sang matahari pulang ke pangkuan malam.

Di senja itu kunikmati angin menyapu wajah letih, di sela bibir tak henti melafaz namaMU. Di teras langitMu aku berdiri, di atas keyakinan tanganMu menyentuhku, disini. Bersiraman cinta dari ujung rambut sampai ujung kakiku, yang tak cukup lautan untukku jadikan tinta menuliskan semua anugerah nikmat yang tercurah di setiap hela nafasku.



Di dalam keletihanku, hanya Engkau labuhanku. Yang selalu kucari di setiap sudut bumi yang kupandangi, dalam bentangan lukisanMu, yang jatuh di ujung muara ini. Di sapuan angin senja yang melayu kutau Engkau melihatku termangu. Wahai Rabbku, wahai teduhanku. Inilah aku dengan segala kelemahanku, dengan segala keterbatasan akalku untuk mengerti dan mencernai setiap kejadian mewarnai gerit perjalanan waktu yang berlalu dihari-hariku.



Di senja ini aku merepih ramainya gemuruh didadaku, laksana nyanyian kehilangan nada, hanya gemuruh tak bersuara mengetuk palung hati yang ingin kuluapkan disini, seiring matahari tenggelam di ujung muara........

Tembilahan, 14/09/10

Jumat, 01 Oktober 2010

Di satu senja di bukit berlapis kabut



Disinilah aku waktu itu, di satu senja dilereng bukit, tatkala matahari menjatuhkan kilaunya dibalik bukit berlapis-lapis diselimuti kabut. Nun dibawah sana, hamparan pesona tergolek. Rumah-rumah di tengah rimbunan. Tenang menyimpan kesunyian, juga rumahku. Tergeletak dalam kenangan menjemput rindu dalam tarian bocah mungil yang senantiasa berkicau memecah kesunyian seiring nyanyian burung-burung.

Hamparan ini tetap elok, meski pematang telah berganti jalanan berbatu. Gurun tempatku bermain layangan juga telah berganti kebun tomat. Dari sini aku berlarian mengitari setiap sudut waktu dan jejak yang kuukir dibawah sana. Disana ada pematang yang menggelincirkan aku bermandikan lumpur. Disana ada pohon jambu yang hampir mematahkan tanganku. Disana ada banyak cerita, yang seperti berebut mengukir kertas putihku dengan aneka warna pelangi, juga abu-abu.

Disinilah aku waktu itu, di satu senja di lereng bukit berlapis kabut, merekam hamparan elok ini. Yang entah kapan bisa kujejak lagi....









Jumat, 13 Agustus 2010

Pertolongan Allah itu sangat dekat sekali.



Kejadian senja tadi masih jelas melekat di ingatku. ketika aku merasa tidak ada lagi yang bisa kulakukan ditengah kepanikan yang melanda, ketika aku merasa jiwaku seperti hendak keluar dari raga. Di ujung ketakutan aku berpasrah, mungkin juga karena aku sudh kehilangan akal untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan jiwaku dan menanti saja dentuman keras yang akan meremukkan seluruh tulangku.

Senja yang kelam, di sisa hujan yang masih bergerimis.. Hujan yang merejam bumi sejak tadi memaksaku menunda jam pulang kerja. Ketika hujan berganti gerimis aku memutuskan untuk pulang agar tidak sampai berbuka di jalan. Masih ada satengah jam lagi waktuku untuk sampai di rumah. Dengan bergegas aku mengenakan jas hujan dan memacu motorku melaju di jalanan licin. Berbaur dengan kendaraan lain yang mungkin juga sedang berburu pulang. Sebuah truk dengan kecepatan rendah di depanku sedikit mengganggu penglihatanku, karena itu aku segera mengambil jalur kiri untuk menghindar dari truk tersebut. Saat aku menaikkan kecepatan untuk masuk ke jalur kiri diluar dugaan sebuah terrano hitam juga melaju kencang di jalur yang hendak kutuju. aku mengurungkan niat untuk pindah ke jalur kiri dan secara reflek kakiku segera menginjak rem sekencang-kencangnya agar tidak menabrak truk di depanku, dan akibatnya aku merasakan roda belakang motorku meliuk dan berputar seperti hendak menghempaskan aku ke jalanan. Menyadari itu kakiku juga berhenti menginjak rem, sementara jarak antara aku dan truk di depan semakin dekat. Aku kehilangan akal, sekelebat ingatanku, aku merasa semakin melaju menabrak truk di depanku. Aku merasa hilang sesaat, bahkan rem tangan pun tak bisa kutekan. Aku sudah berpikir truk itulah yang akan menghentikan laju motorku, tentu saja dalam keadaan tak berbentuk. Ya Allah..hanya kata itu yang kuingat. Di tengah degup jantungku yang berpacu, tiba-tiba saja aku merasa motorku melambat dan aku berhasil berkelit ke jalur kiri meski sedikit lagi aku akan menyenggol truk itu.



Ketika berhasil menguasai laju motorku, di tengah kencangnya denyut jantungku, aku berteriak kencang,.,ya Rabb. Engkau menyelamatkan jiwaku...dan sepanjang perjalanan pulang, terus kulantunkan syukur, begitu dekatnya Engkau padaku.

Minggu, 08 Agustus 2010

Laut...


Selalu kurindukan baunya, berdiri tegak di pantainya, memandang batas cakrawala berwarna jingga mengiringi matahari yang pulang ke pangkuan bumi, dan cahaya keemasan laksana cincin bertabur berkilauan di atas air. Dan deburan ombak yang menghempas pantai seperti hendak menyaingi kicauan camar yang beranjak pulang beriringan. Riuh rendah suaranya menyusup ruang-ruang pikirku, seolah mereka tertawa, bercanda dengan alam, yang memberi mereka ruang bebas untuk mengekspresikan diri, sesekali cecamar itu merendah dan menyapu riak keemasan seolah sedang memainkan tarian perpisahan kepada matahari yang hendak undur diri dari gelanggang siang. Dan perlahan malam pun mulai mengembangkan sayapnya, memayungi gelapnya ke seluruh alam. Sementara aku tetap berdiri di tepian pantai, memungut kepingan-kepingan hari tadi untuk kuberikan pada laut yang luas, dengan segala kelapangannya untuk menerima segala apa yang datang padanya. Dengan segala kepasrahan pada Allah pemilik jiwaku. Di hadapan lautNya aku berdiri, meresapi kehadiranNya lewat angin yang membelai seluruh tubuhku yang mulai gigil berpeluk dingin. Di sela deburan ombak kurenungi segala kemahaanNya, dan betapa kecilnya aku dihadapanNya. Bahkan dihadapan lautNya yang hanya dengan sekali hentakan bisa melenyapkanku di pijakan bumi.

Nun jauh disana kelap kelip lampu nelayan mulai meramaikan gelap, dibawah tudung langit bertabur gemintang, dan bulan yang tersipu dibalik mega-mega. Mengiringi para nelayan menebar jala untuk seonggok harapan, esok hari pulang dengan membawa banyak tangkapan. Sejenak aku membayangkan seandainya aku yang berada disana, ditengah laut yang maha luas, suasana hening mencekam, di tengah bahaya yang datang dari segala penjuru, tak ada tempat berlari selain kepasrahan kepada yang Maha Perkasa. Bertemankan ayunan gelombang, bebuih yang bermain di atas riak-riak. Betapa tak berdaya jika tiba-tiba angin kehilangan kelembutannya, marah menampar sisian perahu, menggulungkan ombak, menelankanku ke dasar terdalam. Yang tersisa hanya sekat ketakutan, satu pilihan yang tersisa hanya menyerahkan jiwaku kembali pada pemiliknya.

Dan malam ini seperti kuciumi bau laut, untuk meluapkan kepingan-kepingan hari-hari tadi. Segunung keletihan, pertikaian hari. Bisu dalam ketidakberdayaan, memekik dalam diam. perlawanan yang sia-sia, yang hanya akan berujung pada kekalahan. Mungkin, aku kalah, itu di mata mereka, tapi aku menang pada diriku sendiri, aku menang pada emosiku dan tidak membiarkan amarah menghilangkan akalku. Aku menang pada kesadaranku, tentang siapa aku, dan keputusanku untuk menerima sikap kepengecutan yang diletakkan dipundakku. Bukankah dengan begitu aku adalah manusia hebat, yang mampu tenang memikul kesalahan yang tidak mampu disandang oleh orang lain, dan adalah suatu kewajaran tidak ada orang yang mau dipersalahkan meskipun atas kelalaian diri sendiri, tiap orang akan berusaha mencari pelampiasan, untuk memuaskan diri, melepaskan sesak didada dan meluapkannya pada orang lain. Tanpa ada kesempatan untuk menjelaskan ataupun pembelaan.

Dan pada bau laut malam ini, aku luapkan isi dadaku. Berhujah bijak pada malam, pada angin. Bukan mencari siapa yang salah yang utama, tapi sikap kita menyelesaikan masalah yang ada itulah yang terutama. Yang terjadi tak akan bisa dirubah, atau dikembalikan pada posisi semula, tapi bagaimana menerima keadaan yang sudah ada dan mencari jalan keluarnya itulah yang utama. Seperti kata bijak yang sering kubaca. “ Orang pintar bukan tak pernah salah, tapi bisa mengatasi kesalahan”. Dan menjadi orang yang dipersalahkan, memang sangat tidak mengenakkan. Hanya jiwa besar dan kebijaksanaan yang menyentak kesadaran, yang membawaku pada ketenangan untuk mengatasi semuanya dengan hati lapang. Tanpa harus meneruskan lagi beban kesalahan ini pada orang lain. Sikap menerima itulah ternyata membuatku menjadi lebih arif, dan bisa berpikir jernih. Seperti laut yang selalu menerima apapun yang dilemparkan padanya dan menenggelamkannya ke dasar terdalam jika itu pantas untuk dia simpan, atau membuangnya di tepian layaknya sampah yang mengering di pantai jika itu tak layak ia telan..

Hm..laut...begitu luasnya engkau, begitu digjaya, kedalamanmu sejuta rahasia, amarahmu tak terkira dan tenangmu adalah sejuta rasa......

Jumat, 28 Mei 2010

aku dan kenanganku

Malam menghempasku pada sepi, pada sudut sudut hampa, tanpa suara, tanpa kata. Hening senyap di setiap detik, setiap hela nafas, laksana angin mengalun dalam semilir menggiringku dalam nelangsa pada garis garis wajahmu.Kokoh dalam tajamnya matamu menembus kisi kisi hatiku. itu kali ketiga kau duduk di hadapanku. Hanya kau dan aku. Ditemani segelas kopi yang kau hirup penuh nikmat, disela deru mobil yang melintas. Malam yang cerah penuh bintang, menemani perbincangan kita tentang sebuah perjalanan manusia, alam dan Tuhan. Kau tulis kertas putihku tentang makna hidup, tentang cita-cita dan mimpi. Seperti hukum resonansi fisika, aku terbawa ke dalam mimpimu, lewat gelombang energi yang kau pancarkan dalam butiran-butiran kalimatmu.

Waktu itu bagiku....Malam jadi terasa sangat pendek, memotong kalimat kita dengan sebuah kata “istiratlah malam ini, besok kita makan siang bersama”. Sepanjang perjalanan pulang, aku berharap jalan bertambah panjang beribu-ribu mil jauhnya. Karena dengan begitu akan semakin panjang waktuku untuk duduk disampingmu sambil memandang kelap kelip cahaya diluar jendela kaca sambil menghitung bintang. Waktu itu segalanya penuh warna bagiku, sepertinya aku baru saja membuka jendela dan menyadari betapa luasnya dunia diluar sana dan menemukan dirimu berdiri di depanku dengan wajah penuh senyum yang seolah kuakhrabi selama bertahun tahun lalu. Begitu dekat bagiku, seperti sosok yang kubangun dalam istana ciptaanku. Istana yang selalu ingin kudatangi ketika lelah dan rapuh memagut hari-hariku. Dimana disana aku menemukan sosok seorang ayah yang akan berkata “Jangan takut, ayah disini”. Atau seorang kakak yang meraih tanganku “Dik, malam akan segera datang, mari kita pulang”. Jauh di lubuk hatiku, tiba-tiba aku merasa takut. Takut pada hatiku jika menjadikanmu kedua sosok itu dan melupakanku aku bahwa engkau juga punya kehidupan yang lebih penting dibanding aku. Aku begitu takut, menjadikanmu berarti sementara mungkin bagimu aku hanya sosok asing yang sekedar singgah di sekelebat waktumu. Hanya sebutir debu yang melintas yang segera terbawa angin. Dan malam itu, perasaan hampa segera menghampiriku, ketika engkau berlalu meninggalkan sebaris kalimat “besok kita bertemu lagi”. Dan malam itu adalah awal malam-malam yang menyiksaku, engkau baru saja berlalu namun rindu sudah menyergapku. Juga gamang segera menyelimutiku. Dan hari-hari merikutnya, aku menemukan wajah lelah diwajahmu, menatapku penuh ragu. Dan aku mulai merasa, betapa sulitnya engkau memasukkan aku ke dalam hidupmu. Ada banyak hal yang harus diseimbangkan. Aku pahami itu. Dan kita tidak harus memaksakan diri untuk itu. Bertemu dan mengenalmu, adalah salah satu anugerah terindah Tuhan untukku. Dan aku patut bersyukur atas itu.

Dan hingga malam ini, aku masih saja suka kembali ke waktu itu. Waktu ketika engkau duduk di hadapanku. Meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Dan aku berharap semua memang akan baik-baik saja. Meski kemudian semua hal terjadi diluar kuasa kita, aku tetap meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Dan aku juga akan baik-baik saja. Setidaknya kenanganku tentangmu akan tetap baik-baik saja. Tak satupun terlupa, tidak juga sepatah kata. Semua masih jelas tergambar di mataku tak satupun terlewat, lekat di ingatku seperti aku melihat bintang malam ini, hanya bedanya malam ini aku melihatnya sendiri. Malam merayap dalam bayanganmu, lambat berlalu.

Hmm,.kutuliskan ini di hening malam, bukan untuk mengatakan engkau telah menjarah jam tidurku, tapi karena sekarang bagiku, malam jadi terasa sangat panjang, yang dipenuhi bayangmu bahkan ketika kusapa pagi dalam kejap pertamaku. Juga di potongan-potongan hari yang kulalui. Selalu saja bayanganmu mengusik disetiap sudut kemana mataku menuju. Aku lelah. Itu kuakui. Tapi aku lebih lelah ketika menguras segenap kekuatanku untuk melupakanmu. Akhirnya kuputuskan, membiarkan kenangan itu tetap bersamaku.

Kita tau....Apa yang akan terjadi akan tetap terjadi, meski kita setujui atau tidak, yang sudah ditetapkan terjadi tetap akan terjadi. Begitupun dengan kita. Mungkin semua ini adalah kejadian yang sudah dipersiapkan untuk kita. Bertemu dan berpisah seolah pasangan kasih yang selalu berdampingan. Bertemu hanya jalan menuju perpisahan, tak ada yang kekal. Cepat atau lambat sang waktu berkacak sombong, merebut hari hari-hari kita dengan cara-cara yang kadang tidak kita suka. Tapi begitulah ketetapannya. Begitupun hati, setiap saat bisa berubah, meski tidak bagiku. tetaplah kenangan itu terpatri dalam detik-detik waktu yang kulalui. Dan aku yakin, disana kau juga tidak lupa, aku pernah melintas dalam hari-harimu dengan sedikit kekacauan yang mungkin akan membuatmu tertawa sendiri ketika mengenangnya. Menertawakanku atau menertawakan dirimu sendiri tidaklah penting. Karena terkadang, ketika kita menertawakan orang lain, pada saat yang sama kita juga sedang menertawakan diri kita sendiri.

Dan..pada malam yang terus beranjak senyap, kutitipkan pada bintang. Aku masih disini, mengenangmu, membawa semangatmu bersamaku dan semua tulisan yang kau tulis di atas kertas putihku di hari-hari lalu. Pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. dan berharap malam ini kau juga sedang melihat bintang..dan melihat disini aku tersenyum mengingatmu..dan berharap di suatu masa, di suatu ketika kita akan kembali seperti semula, sebagaimana awal terciptanya..

Senin, 24 Mei 2010

Mulai Menulis


Kumulai tulisan ini, seperti biasanya tanpa memikirkan ending. Aku juga tidak tau mengapa setiap memulai menulis, aku tidak ingin memikirkan endingnya seperti apa, atau mungkin aku takut di tengah perjalanan tulisanku menemukan ending yang lain. Atau juga aku yang tidak ingin memfokuskan pikiranku pada ending yang sudah aku tetapkan, hingga akhirnya semua cerita mengarah kesana dan tidak menemukan warna dalam coretan coretan acakku, mungkin juga aku yang memang tak punya kemampuan menulis, tapi selalu saja ingin menulis. Jadilah tulisanku acak tanpa alur yang jelas, berjalan sesukanya tanpa keterikatan tema dan alur. Ah..biar saja..apa peduliku. Bukankah aku sedang tidak ikut perlombaan menulis yang mengharuskanku mengikuti syarat-syarat yang telah ditetapkan panitia. Yang membatasi tema, halaman dan dan waktu penulisan. Aku bisa menulis kapan saja, dimana saja dan tentang apa saja yang kusuka.

Hari ini aku memulai tulisanku tentang “ Kau, Aku dan Dia” dan pada bab ini kutuliskan tentang “Kau”, mungkin di Bab lain “Aku” akan menulis tentang “Dia”.
Aku mengenalmu pada musim kering yang panjang, ketika daun daun telah mengering. Ketika tunas seolah enggan keluar dari kelopak daun. Musim kering yang sangat panjang, yang melupakan ku pernah ada musim hujan, yang memasung mimpiku tak akan ada lagi musim hujan. Aku hanya melihat rumput yang menguning, daun daun yang kering dan aku berjalan diantara angin musim kering.

Sepanjang hari yang kulewati, tak kurasakan sejuknya embun, juga dinginnya kabut yang membungkus pagi diantara gerimis sisa hujan semalam. Aku hanya membatin. Apa bedanya dengan kemarin?.Juga tak kulihat indahnya matahari menyeruak kabut, dengan spektrum cahaya yang jatuh di daun. Aku hanya melihat, sebentar lagi daun itu juga akan kering, manakala matahari semakin tinggi dan menguapkan embun. Dan bagiku tetaplah musim kering.

Hari kemarin kuputuskan berhenti mengejar mimpi, kupatahkan harapan menapak pendakian. Aku ingin turun dan melewati jalan datar yang tidak bergelombang. Ketiga pucuk pucuk keinginan ingin meraih bintang, kukatakan pada hati, “kita sedang berhenti di atas sajadah panjang. Lupakan tentang bintang. Kita terlalu lama lena dalam warna keruh dunia, mengejar ambisi yang menyeret kita pada jalan berkerikil tajam. Luka luka menujam dari wajah wajah semu penuh kemunafikan, mengatasnamakan cinta untuk sebuah tujuan. Keuntungan. Dan engkau hatiku, terlalu naif untuk semua ini, yang tak pernah melihat hitam dibalik putih”.

Hari kemarin kuputuskan, hari-hari hanyalah kemarau, tanpa mimpi, jalani saja dari mulai kita terbangun sampai tertidur lagi, sambil sesekali memandang langit, dan berkata “Tuhan, aku masih disini. Engkau pasti tau kenapa aku ingin berhenti”.

Kemudian, aku mengenalmu di gelap malam, tanpa sentuhan, tanpa tatapan. Tapi rasaku engkau sedang berdiri disampingku. Merengkuh bahuku, menggenggam jemariku. Membimbingku berjalan. “Dik, jalanmu masih panjang”. Tiba-tiba saja hari bergulir dalam untaian puisi, menghalau musim kering.

Jumat, 21 Mei 2010

Yang tak selesai


Aku terdampar pada tanya yang tak terjawab,pada bulir-bulir waktu yang singgah pada hari-hari kita. Menyisir rangkaian kata, untaian kalimat yang kita rangkai hari kemaren. Kucerna satu demi satu, kueja kembali pada pagi dan sore hari, sama seperti ketika kita isi hari-hari dengan kata yang mengalir hangat. Tak ada yang salah sebenarnya, mungkin hanya sedikit kesalahpahaman hingga semua berakhir pada diam.Atau mungkin karena kondisi yang menempatkan kita pada waktu yang membuat kita tidak bisa bicara banyak tentang kita, menyelami ke dasar persoalan, tentang apa yang kau pahami tentangku, dan juga apa yang kupahami tentangmu. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dan membuat keputusan sendiri-sendiri tentang kau dan tentang aku.

Terkadang kita tidak bisa bijaksana pada saat yang tepat. ketika kebijaksanaan itu sangat dibutuhkan untuk memahami kondisi-kondisi diluar prediksi kita. Seperti yang terjadi pada kita di hari kemaren. Mungkin juga kita terlalu kaget dengan pertemuan, sehingga kita kehabisan kalimat untuk menjelaskan. Tapi setidaknya aku sangat memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di hari kemaren hanyalah bagian dari perjalanan yang memang sudah ditetapkan dari awalnya.

Sekarang...Hari kita berlalu dalam diam, dalam bingkai yang tak selesai bagiku. Mungkin karena terlalu banyak yang ingin kukatakan, banyak yang ingin kujelaskan. tapi semua tetap berakhir pada diam, dalam pemahamanku sendiri. Begitu banyak yang tak ketahui tentangku.