malam yang jatuh,
melarut dalam embun
yang mulai merebaknya dinginnya.
kelam langit tak berbintang
yang kusinggahi
ketika mata enggan terpejam.
di sudut-sudut ruang
menjelmakan Engkau.
Wahai labuhanku,
jika rinduku padanya
melebihi rinduku padaMu,
sesungguhnya Engkaulah
penguasa hatiku.
yang Maha mengetahui
ketidakberdayaanku
untuk mengijinkan
diriku terbang bebas
dengan segala suka cita
untuk keluar dari keterpakuanku
pada masa ketika Engkau hadirkan
dia di hidupku..
Tampilkan postingan dengan label coretan malamku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan malamku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 September 2010
Sabtu, 24 Juli 2010
musim gugur
Rabu, 21 Juli 2010
Senandung hujan

Hujan masih saja turun merajam semesta, titik-titiknya terus saja melubangi tanah yang kepayahan. Merinai dihelai helai malam. Gemerintiknya laksana nyayian sendu membahana menjelma airmata, dalam senandungku yang dibungkus kehampaan. Senandungku melarut dalam hujan, semakin dalam menikam angkasa kelam. Senyum hampaku tengadah, mencoba membaca kelam yang menenggelamkan bintang-bintang.
Ketika ini malam melindas ketabahan, pijak yg kukokohkan. Dalam pilar-pilar keyakinan, yang ku ingin tak luruh dalam hujan yang terus menghujam.
Wahai...layakkah tertawa gembira meski luka terus tempeli, tapi hanya itu yang bisa kulakukan, kesedihan tak jua melarut dalam hujan.. dan kesedihan yang kau luapkan semakin memaksaku tertunduk membaca kelam. Sembari menyusun kalimat-kalimat teduhan, di tengah gejolak hati yang kuasa tahankan riak kesedihan yang menghujam laksana hujan.
Sementara hujan terus saja merintik senandungkan lagu kesedihan, menalu hati yang juga tak mampu merangkai kata, hanya senandung diam di ujung kata. Maaf.,
ternyata akulah kesedihanmu.,yang menjarah bahagia di wajahmu, cintamu yang tak bersyarat, dari engkau terjaga sampai lelap sekejap menyapa. Dan aku si adik kecilmu, yang selalu tersenyum menyanding luka, dan engkaulah kakakku yang selalu merasa tak berguna, atas gerit-gerit waktu yang terus menua dan engkau tak bisa berbuat apa. Dan aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Karena memang kita tidak bisa berbuat apa-apa dalam genggaman ketidakberdayaan, atas kemahaanNya.
Dan disela hujan yang terus merintik, kusenandungkan terima kasih untuk cinta, dan malam ini tak harus melindas kesabaran dan ketabahan kita...karena tidaklah Allah menetapkan suatu ketentuan bagi kita, melainkan itu kebaikan untuk kita...
Minggu, 18 Juli 2010
Cinta itu selalu ada

Di kelebat malam yang terus mendaki sunyi
Kuhadir-hadirkan lembutmu
Yang bukan mungkin lagi,
Tapi pernah baluri malam-malamku
Disela mata sayu dipaksa berjaga
Agar dinginnya malam tak sampai menyentuh kulitku.
Kuhadir-hadirkan lagi bagaimana rasanya
Karena derap waktu menguras telaga di matamu
Dibalik amarah,
pelampiasan,
kekecewaan
yang jejaliku, dalam keterasingan
mematikan getar-getar jantungmu
yang kau semat dijantungku
kau tak sadar, aku pun tak sadar
waktu telah menjarah hari-hari kita
bertahun tahun lamanya
dan kini kita berseberangan
di antara jurang yang begitu dalamnya..
meski cinta itu selalu ada,,
tapi kita telah terlupa bagimana cara mewujudkannya..
aku terluka, kau juga terluka
tapi sebenarnya cinta itu ada..
dimata kita yang terbungkus kecewa
karena nyatanya kita terlalu berbeda
dan aku juga tidak tau mengapa kita berbeda
mungkin karena Allah ingin menunjukkan padamu
juga padaku..
bahwa kau tidak pernah mengajarkan aku
bagaimana mencinta indah...
Selasa, 15 Juni 2010
Rasa sakit itu ada selama kita biarkan

Itu yang kukatakan padamu, ketika kembali kau jadikan aku tong sampah untuk persoalan yang sama. Dan rasanya berulangkali juga kukatakan itu padamu. Aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membagi bebanmu, karena begitu sulit hatimu kumasuki. Kau selalu bertahan dengan prinsipmu, lalu pencerahan seperti apa yang bisa kulakukan untuk mengurai kekerasan hatimu. Dan akhirnya aku hanya termangu, membiarkan kau mentransfer semua sakit hati dan kecewamu ke kepalaku. Dan sepertinya aku juga harus bersiap mencari tong sampah baru untuk membuahnya dari otakku.
Kakakku, untuk kesekian kali kukatakan padamu, rasa sakit itu ada selama kau membiarkannya ada dihatimu, dan kau akan tetap dalam lingkaran yang sama jika kau tidak melangkah keluar untuk mencari dasar persoalan dan membenahi satu satu demi satu duri yang menyangkut di sepanjang jalanmu. Ia akan tetap ada jika kau tidak memungutnya dan menghilangkannya dari hidupmu. Hatimu akan tetap pengap dan semua terasa sesak, jika kau tidak membukanya dan membiarkan cahaya memasukinya.
Kukatakan padamu. Hidup adalah pilihan, aku sering mendengarnya. Saat kita menentukan sebuah pilihan, maka kita juga harus mempersiapkan diri untuk menerima segala resiko dari pilihan kita tersebut. Dan kau telah memilihnya. Segala sesuatu terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi yang pasti semua berjalan sesuai yang telah dirancang Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu melewati tahap demi tahap, proses menuju akhir sesuai yang telah ditetapkan. Dan jika kita bisa meleawatinya dengan baik, semua akan indah pada waktunya.
Saat kita menerima seseorang memasuki kehidupan kita, itupun juga adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk melepaskan sebagian dari diri kita untuk di acak acak oleh sang pendatang baru. Dia akan merubah banyak hal dalam hidup kita, menyita banyak pengertian dan perhatian. Dan jika itu tidak sanggup kita lakukan, maka bersiaplah untuk sebuah penderitaan dan rasa tertekan.
Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sepatutnyalah dia menyadari penuh, dia akan banyak kehilangan bagian dirinya untuk diberikan kepada pasangannya. Waktu, pengertian dan perhatian. Saling menerima segala kekurangan dan saling melengkapi dalam berbagai hal. Menyatukan dua jiwa untuk seiring sejalan tidaklah mudah, akan selalu ada pertentangan. Perbedaan prinsip dan pemahaman pasti selalu ada. Disanalah pengertian kita dibutuhkan untuk tidak terjebak kedalam ego masing-masing dan memilih jalan sendiri-sendiri meskipun berada dalam satu atap.
Ketika semua berjalan tidak sesuai harapan, ketika pengorbanan tidak mendapat penghargaan, yang ada justru salah penafsiran. Siapakah yang harus disalahkan. Ataukah kita yang terlalu banyak meminta tapi tidak memberikan apa-apa. Kita ingin dimengerti tapi tidak mencoba untuk mengerti. Atau pengertian itu sendiri yang telah kehilangan arti. Kita selalu mencari siapa yang salah, tapi tidak pernah melihat kedalam diri kita sendiri. Dan siapakah yang harus disalahkan jika kita merasa tersakiti. Tapi pernahkah kita berpikir kalau kita juga telah menyakiti. Dan jadilah hari-hari berjalan dengan saling menyakiti.
Untukmu kakakku....
Sekali lagi kukatakan. Rasa sakit itu ada selama kita biarkan, hari ini aku mendengarkanmu, aku merasakan betapa tertekannya dirimu dan aku hanya bisa berkata. Lepaskan semua beban dari pikiranmu. Terimalah apa yang ada di depanmu dengan ikhlas, dan ketika engkau telah memberikan yang terbaik dari dirimu, berikanlah dengan hati lapang agar tidak menyesak di dadamu. Bersandarlah selalu pada zat yang Maha Luas lagi Maha Melapangkan.
Selasa, 08 Juni 2010
Aku benci mengatakan aku benci

Mungkin itu kata yang tepat kukatakan saat ini, karena sesungguhnya aku merindukanmu. Aku rindu bergayut di pundakmu, aku rindu tertidur pulas di pangkuanmu. Dan aku rindu perlindunganmu ketika ketenanganku di usik. Sampai kau menghantarku pada ketidakmengertian, akan sebuah kepergian, disaat aku sedang asyik berputar dan menari.
Aku selalu bertanya pada hari-hari, kemana semuanya pergi. Mengapa harus ada tragedi. Sampai aku berhenti bertanya karena pada akhirnya aku lelah sendiri, tak ada jawaban. Kemudian aku pun memilih diam, menyisir batang-batang hari di atas kakiku sendiri, tanpamu.
Sekelebat waktu, begitu lamban bagiku. Mengusik daun-daun kenangan, menjarah mimpi-mimpiku tentang indahnya pelangi, dan aku telah sampai pada hari ini dan mendapati diriku sepi dalam bingkai tak berbentuk. Tak ada warna yang kau tulis dilangkahku. Yang menguatkan aku menantang matahari.
Sepanjang hari aku berlari, tak peduli. Ku pungut setiap rindu dan kulempar jauh, ku pungut lagi dan kulempar lagi begitu ia kembali. Kuteriakkan aku benci padamu, aku benar-benar membencimu. Dan aku juga benci mengatakan aku membencimu. Kau ciptakan bulan yang suram untukku. Kau rengkut matahariku setiap hari, menggantinya dengan coretan buram yang tak harus kurekam dalam benakku. Tapi semuanya telah memenuhi hari-hariku, yang mengukir sebuah tanya dihatiku, untuk inikah kau inginkan kelahiranku? Sebuah amanah yang harusnya terpelihara baik. Lalu dimana engkau pada saat aku membutuhkanmu.?
Dan kini, ketika aku terbiasa tanpamu. Walau tak menghapus namamu dalam doaku, haruskah aku bahagia, ketika engkau mengatakan rindu dan ingin bertemu denganku? Tidak..! aku tidak bahagia yang ada hanya pilu. Mencabik hatiku yang telah terbiasa rapi tanpamu. Dan aku sungguh benci mengatakan aku benci padamu. Sama seperti aku benci mengatakan aku mencintaimu. Meski sesungguhnya aku mencintaimu, aku merindukanmu. Meski terus kupungut dan kulempar jauh. Selalu saja ia kembali memenuhi setiap aliran darahku, dan aku tau takkan pernah terputus karena darahmu mengalir dalam tubuhku. Tapi mengapa tak kau rasakan sebagian darahmu hilang bersamaku, mengapa tak pernah kau rasakan hatiku berdegup dalam pertarungan melawan setiap perih, mencabuti duri-duri yang menusuk telapak kakiku. Dimana engkau setiap aku membutuhkanmu.? Sungguh aku benci mendengar engkau mengatakan rindu, sama seperti aku benci mengatakan aku rindu padamu..
Diantara cinta, benci dan rindu, dimanakah aku bediri. Aku juga tak tau. Tapi telah kuputuskan aku tidak berada dimana-mana. Aku tetap disini, di hari-hariku. Berbuat semampuku. Bertahan semampuku. Dengan sebuah kata terakhirku, sesungguhnya aku tak pernah mampu membencimu, meski aku sungguh ingin membencimu.
Pku, 08/06/10
22.45 wib
Jumat, 04 Juni 2010
Tentang seorang sahabat
Tiba-tiba saja aku teringat kita, melongok kembali hari-hari lalu, kujelajahi setiap sudut memori dalam kenangan yang direkam baik oleh otakku. Kau dan aku bertemu di suatu ujung masa, dalam catatan hari-hari dengan seonggok cita-cita yang kita belum jelas warnanya, menapak hari-hari dalam tawa, bukan tidak ada masalah di hari-hari kita, tapi karena itu sudah menjadi biasa untuk kita. Kemudian waktu menggiring kita berjalan seirama, bersama memandang matahari, dan beriringan berjalan dibawah cahaya bulan. Terkadang kita jadi pribadi yang manis, meski sering juga usil mengusik, menghentak hati kita yang jujur.
Ah..aku jadi tersenyum sendiri mengingat kenakalan kita. Ketika kita menggigil pucat hanya karena mencuri sebatang coklat di sebuah pusat perbelanjaan ketika tiba-tiba saja listrik padam. Begitu takutnya kita, padahal tak ada yang melihat, dan yang kita ambil juga hanya sebatang coklat yang harganya belum mencapai Rp. 200. Bukan karena kita tidak punya uang waktu itu, tapi karena kita ingin merasakan bagaimana rasanya jadi pencuri. Dan kita tau, betapa mendebarkan waktu itu, seolah kita telah mencuri trilyunan rupiah. Kamu ingat..? kita sama tertawa terbahak seolah merayakan keberhasilan kita, atau lebih tepatnya menertawakan diri kita yang sama-sama pucat dengan sebatang coklat di tanganmu dan sebuah permen di tanganku. Sepanjang jalan kita terus berceloteh dan tertawa. Menertawakan betapa beraninya kita sekaligus betapa takutnya kita.
Hari-hari kita pernuh warna, gerutu kekesalan yang kau bawa dari luar sana, dan aku menjadi tong sampah, menampung semua amarahmu tentang mereka dengan suara gemuruh mulai dari engkau membuka pintu sampai engkau terduduk diam disampingku dan kemudian kita terbahak bersama. Dan pada hari berikutnya, aku juga melalukan hal yang sama, dan kali ini engkau menggantikan posisiku sebagai tong sampah dan kembali kita tergelak bersama. Aku tau, dan engkau tau, kita tak kan pernah lupa setiap detik waktu yang kita lalui bersama.
Kau dan aku terus bersama, tak ada rahasia diantara kita, meski pernah suatu masa kau sembunyikan luka dariku, dan betapa bodoh dan butanya hatiku waktu itu sehingga tak merasakan sedikitpun perubahanmu, luka dimatamu. Meski telat kutau, dan kemudian kita menangis bersama dan kuambil separoh luka itu. Tak harus kukatakan tapi aku juga terluka dengan lukamu. Aku tak punya kata-kata manis untuk menghiburmu, tapi mata dan hatiku yang memerih cukup mewakili betapa aku ada disini, di sampingmu. Bersama lukamu. Dan kita akan kuat bersama.
Waktu semakin mengokohkan kita, perasaan kita, selalu berbagi, kau mengenalku lebih dari siapapun, begitupun aku. Tak pernah kita ungkapkan itu. Hanya hati yang bicara. Sejauh apapun jarak kemudian memisahkan kita, pada saat-saat tertentu kita akan kembali berbagi meski diantara ruang dan masa. Kau menangis aku diam mendengarkan, begitupun sebaliknya. Aku terjatuh kau menguatkan, begitupun sebaliknya. Kita selalu berbagi kekuatan.
Kita bahagia bersama, sedih juga bersama, tapi hari ini kau simpan lukamu sendiri. Meski tak kau katakan, aku tau, aku merasa. Aku gundah dalam gundahmu, aku gelisah menanti air matamu. Tak ada yang bisa kukatakan. Aku ingin yang terbaik untukmu, aku inginkan kebahagiaanmu. Banyak sisi hidup yang belum kita pahami. Cinta datang dan pergi tanpa kita kehendaki, sebenarnya kita ingin, tapi pada saat yang sama kita dihadapkan pada pilihan. Dan apapun itu, hanya sebuah perjalan yang sudah dirancang sang penguasa alam. Betapapun kita menolak, semua akan berjalan sesuai ketetapanNya. Dan betapapun kita berkehendak, hanya mendapati keletihan jika Dia tidak berkehendak. Semua akan berjalan menuju ujungnya, menuju arahnya. Kita hanya menjalani dan melakoni peran ini sekarang. Lakukan saja, jalani saja. Karena dengan begitu kita akan menemukan jawabannya. Dan jika semua ini bukan pilihan, waktu akan menuntunmu padanya. Dengan senyum merekah, hari yang penuh berkah. Semua akan berjalan sesuai rancanganNya melalui proses panjang hingga waktu yang sudah ditetapkanNya. Semua akan indah pada waktunya.
Apapun yang terjadi saat ini, aku selalu disini, untukmu. Dan aku tau kau tak ragu soal itu. meski tak bisa kutatap wajahmu malam ini, tapi kutuliskan ini untuk mewakili aku tak bisa tidur malam ini untukmu.......
Pku, 4/6/10
01.30 wib...
Ah..aku jadi tersenyum sendiri mengingat kenakalan kita. Ketika kita menggigil pucat hanya karena mencuri sebatang coklat di sebuah pusat perbelanjaan ketika tiba-tiba saja listrik padam. Begitu takutnya kita, padahal tak ada yang melihat, dan yang kita ambil juga hanya sebatang coklat yang harganya belum mencapai Rp. 200. Bukan karena kita tidak punya uang waktu itu, tapi karena kita ingin merasakan bagaimana rasanya jadi pencuri. Dan kita tau, betapa mendebarkan waktu itu, seolah kita telah mencuri trilyunan rupiah. Kamu ingat..? kita sama tertawa terbahak seolah merayakan keberhasilan kita, atau lebih tepatnya menertawakan diri kita yang sama-sama pucat dengan sebatang coklat di tanganmu dan sebuah permen di tanganku. Sepanjang jalan kita terus berceloteh dan tertawa. Menertawakan betapa beraninya kita sekaligus betapa takutnya kita.
Hari-hari kita pernuh warna, gerutu kekesalan yang kau bawa dari luar sana, dan aku menjadi tong sampah, menampung semua amarahmu tentang mereka dengan suara gemuruh mulai dari engkau membuka pintu sampai engkau terduduk diam disampingku dan kemudian kita terbahak bersama. Dan pada hari berikutnya, aku juga melalukan hal yang sama, dan kali ini engkau menggantikan posisiku sebagai tong sampah dan kembali kita tergelak bersama. Aku tau, dan engkau tau, kita tak kan pernah lupa setiap detik waktu yang kita lalui bersama.
Kau dan aku terus bersama, tak ada rahasia diantara kita, meski pernah suatu masa kau sembunyikan luka dariku, dan betapa bodoh dan butanya hatiku waktu itu sehingga tak merasakan sedikitpun perubahanmu, luka dimatamu. Meski telat kutau, dan kemudian kita menangis bersama dan kuambil separoh luka itu. Tak harus kukatakan tapi aku juga terluka dengan lukamu. Aku tak punya kata-kata manis untuk menghiburmu, tapi mata dan hatiku yang memerih cukup mewakili betapa aku ada disini, di sampingmu. Bersama lukamu. Dan kita akan kuat bersama.
Waktu semakin mengokohkan kita, perasaan kita, selalu berbagi, kau mengenalku lebih dari siapapun, begitupun aku. Tak pernah kita ungkapkan itu. Hanya hati yang bicara. Sejauh apapun jarak kemudian memisahkan kita, pada saat-saat tertentu kita akan kembali berbagi meski diantara ruang dan masa. Kau menangis aku diam mendengarkan, begitupun sebaliknya. Aku terjatuh kau menguatkan, begitupun sebaliknya. Kita selalu berbagi kekuatan.
Kita bahagia bersama, sedih juga bersama, tapi hari ini kau simpan lukamu sendiri. Meski tak kau katakan, aku tau, aku merasa. Aku gundah dalam gundahmu, aku gelisah menanti air matamu. Tak ada yang bisa kukatakan. Aku ingin yang terbaik untukmu, aku inginkan kebahagiaanmu. Banyak sisi hidup yang belum kita pahami. Cinta datang dan pergi tanpa kita kehendaki, sebenarnya kita ingin, tapi pada saat yang sama kita dihadapkan pada pilihan. Dan apapun itu, hanya sebuah perjalan yang sudah dirancang sang penguasa alam. Betapapun kita menolak, semua akan berjalan sesuai ketetapanNya. Dan betapapun kita berkehendak, hanya mendapati keletihan jika Dia tidak berkehendak. Semua akan berjalan menuju ujungnya, menuju arahnya. Kita hanya menjalani dan melakoni peran ini sekarang. Lakukan saja, jalani saja. Karena dengan begitu kita akan menemukan jawabannya. Dan jika semua ini bukan pilihan, waktu akan menuntunmu padanya. Dengan senyum merekah, hari yang penuh berkah. Semua akan berjalan sesuai rancanganNya melalui proses panjang hingga waktu yang sudah ditetapkanNya. Semua akan indah pada waktunya.
Apapun yang terjadi saat ini, aku selalu disini, untukmu. Dan aku tau kau tak ragu soal itu. meski tak bisa kutatap wajahmu malam ini, tapi kutuliskan ini untuk mewakili aku tak bisa tidur malam ini untukmu.......
Pku, 4/6/10
01.30 wib...
Langganan:
Postingan (Atom)
