Senin, 25 April 2011

Sayap-sayap patah


Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini..
Begitu rapuh dan mudah terluka..
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa..
Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam hati ini..
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat..
juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada..
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…
Wahai ilalang…
Pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini..
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini..
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga..
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia..
Menghargai apa arti cinta…
Hati yang terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap-sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu….
Disudut hati yang beku…
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan ….
Sebelum hilang di terpa angin…

Sambil terduduk lemah….
Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh…
Ku gapai kepingan di sudut hati…
Hanya bayangan yang ku dapat….
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah..
Tertusuk duri-duri yang tajam….
Hanya bisa meratap….
Meringis..
Mencoba menggapai sebuah pegangan..

Kahlil Gibran

Senin, 11 April 2011

NYANYIAN HUJAN



Aku ini percikan benang-benang perak yang dihamburkan dari syurga oleh dewa-dewa.
Alam raya kemudian meraupku, bagi menyirami ladang dan lembahnya.
Aku ini taburan mutiara, yang dipetik dari mahkota Raja Ishtar, oleh puteri Fajar,
untuk menghiasi taman-taman mayapada.
Pabila kuurai air mata, bukit-bukit tertawa;
Pabila aku meniup rendah, bunga-bunga gembira,
Dan bila aku menunduk, segalanya cerah-ceria.
Ladang dan awan mega berkasih-mesra,
Di antara mereka aku pembawa amanat setia,
Yang satu kulepas dari dahaga,
Yang lain kuubati dari luka.



Suara guruh mengkhabarkan kedatanganku
Pelangi di langit menghantar pemergianku,
Bagai kehidupan duniawi, diriku,
Dimulakan pada kaki kekuatan alam,
Dan diakhiri di bawah sayap kematian.
Aku muncul dari dalam jantung samudera,
Melayang tinggi bersama pawana,
Pabila kulihat ladang memerlukanku,
Aku turun, kubelai mesra bunga-bunga dan pepohonan
Dalam berjuta cara.

Jemariku lembut bermain pada jendela-jendela kaca
Dan berita yang kubawa membawa bahagia,
Semua orang dapat mendengarnya, namun hanya yang peka,
Dapat memahami maknanya.
Panas udara melahirkan aku,
Namun sebagai balasannya aku membunuhnya,
Laksana wanita yang mengungguli jejaka,
Dengan kekuatan yang dihisap daripadanya.



Diriku helaan nafas samudera
Gelak tertawa padang ladang,
Dan cucuran air mata dari syurga.
Maka, disertai cinta kasih -
dihela dari kedalaman laut kasih-sayang;
tertawa ria dari rona padang jiwa,
air mata dari kenangan syurga abadi.


Khalil Gibran

Minggu, 20 Maret 2011

Tulang Rusuk


Pernah ku berpikir
untuk menjadi matahari untukmu
Agar aku bisa mencerahkan harimu
Dengan kelembutan sinarnya di pagimu
Tapi ia hanya ada menjelang senja

Kemudian aku berpikir
untuk menjadi senja untukmu
Menemanimu melewati langit jingga
Menatapi awan yang shepia
Tapi ia juga akan hilang di telan malam

Pernah juga aku berpikir
Untuk menjadi pelangi untukmu
Di batas cakrawala langit melintasi harimu
Mewarnai ceria hatimu
Tapi ia juga sesekali hadir

Akhirnya..aku memutuskan
Aku hanya ingin menjadi tulang rusukmu
Yang akan menaungi hati dan jantungmu
Kapanpun
Dimanapun
Kau berada..

Pku, 20/3/11

Senin, 07 Maret 2011

Untukmu kekasih




Kekasihku...
Telah kubunuh lelah untukmu,
kupangkas rasa kantuk dan malas
yang sering mengganggu
yang seketika lenyap ketika kusadar
engkau membutuhkanku
begitu sering kuhalang waktu
agar tak menjauhkanku darimu
agar aku selalu ada
di saat sedih dan putus asamu

Kekasihku...
Tak henti namamu di ujung dzikirku
Di segenab jiwaku mengharap
jemari Tuhan menyentuhmu
mendekapmu hangat dikala galau
melabuhkan sayapnya disamudera hatimu
agar kau rasa damai,
agar selaksa kekuatan berkumpul
untuk kau pungut di esok hari
yang menyertaimu melangkah
menyisiri hari-hari...


Pku, 07/03/11

Jumat, 25 Februari 2011

Ku tak mampu

Belum juga aku mampu
Menamai setiap bilur di matamu
Meski telah kutatap tajam
Dan kujelajahi sampai ke lubuk terdalam
Aku hanya terpana tak mampu mengeja makna
Selaksa warna berpendar mengundang ragu
Yang berujung pada tanda tanya

Sepanjang jalan yang kita lewati
Tak terhitung kalimat yang berbaris rapi
Melangitkan mimpi, tak hendak kulerai
Senandung lagu cinta yang kau suguhkan
Akankah segera terampungkan
Sementara aku belum juga mampu
Manandai waktu
untukku sudahi tanda tanya...
yang selalu hadir sejak bermalam malam...

Pku, 25/02/11

Minggu, 20 Februari 2011

Pintaku

Sejatinya hidup telah kujanjikan untukMu
Kupersaksikan Engkau Tuhanku
Yang selalu kulafazkan di lima waktuMu
Namun cinta kepada hambaMu telah mencuri waktuku
Meski tak henti kusebut namaMu
Besertakan syukur atas anugerah cinta
Yang Engkau sisipkan di hatiku



Pintaku,
Lindungi aku
Jagalah aku
Ampuni aku
Atas apa yang aku tidak berkuasa
Karena Engkaulah penguasanya
Yang tak pernah bisa kukuasai...
Mudahkanlah jalanku menuju cinta dalam ridhaMu
Agar tak terjatuhku ke dalam jurang cinta semu
Yang menenggelamkanku ke dalam murkaMu
Duhai Rabb pemilik jiwaku..


Pku, 20/2/11

Pagi yang bodoh

Kau dan aku terpana
melewatkan pagi dengan gulana
Menjarah hati yang ceria
Berselimut kemelut yang mengikis senyum
Dan awan kemuraman menggelantung
Menyeret langkah menjejak hari
Di sepanjang jalan yang tiba-tiba saja terasa mendaki.

Kau dan aku tak mengerti
Bukan matahari yang tak ramah pagi ini
hanya kita yang terlalu bodoh membiarkan pagi berlalu
sementara kita sibuk menduga-duga
sehingga terlupa, sesungguhnya kita saling melindungi
kau tak sadar, aku tak sadar
nyatanya kita telah tersakiti....

sepanjang hari bergumam,..
mengeja namamu di setiap helaan nafas
kekasihku, yang lembut hatinya
maafkanlah aku yang sering membuat kesal
meski sering kumarahi diriku sendiri
karena tak kunjung selesai membuatmu kesal......

Pku, 17/2/11